Di sisi lain, ceritanya berbeda di Amerika Serikat. Konsumsi batu bara di sana malah naik, didorong oleh harga gas alam yang meroket. Belum lagi, ada dukungan kebijakan pemerintah yang mempermudah operasional pembangkit batu bara dan mendongkrak produksi. Faktor-faktor ini jadi penopang permintaan.
Lalu, bagaimana dengan China? Sebagai konsumen terbesar di planet ini, permintaan batu bara Negeri Tirai Bambu itu cenderung stagnan tahun depan. IEA memperkirakan angkanya akan turun perlahan menuju 2030, seiring gencarnya penambahan kapasitas energi terbarukan. Namun begitu, ada catatan penting: jika pertumbuhan permintaan listrik melesat lebih cepat, atau transisi ke energi hijau berjalan lambat, proyeksi penurunan ini bisa saja meleset.
Sadamori sendiri menekankan betapa sentralnya peran China dalam peta energi global.
“China yang mengonsumsi sekitar 30 persen lebih banyak batu bara dibandingkan gabungan negara lain, menjadi penggerak utama tren batu bara global,” katanya.
Jadi, meski rekor akan tercipta tahun depan, masa depan batu bara sepertinya mulai redup. Semuanya bergantung pada seberapa cepat dunia beralih, dan tentu saja, langkah strategis dari raksasa-raksasa energi seperti China dan AS.
Artikel Terkait
Palantir Pacu Nasdaq, Emas Melonjak 6% di Tengah Gejolak Pasar
Mendag Tegaskan Tak Ada Moratorium, Ekspor Kelapa Tetap Jalan
Pemerintah Pacu Investasi Rp 2.175 Triliun untuk Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6%
Wacana Gentengisasi Prabowo Hangatkan Harapan di Jatiwangi