Laporan 9 Bulan Adaro: Laba Tergerus, Pasar Domestik Jadi Penopang

- Minggu, 07 Desember 2025 | 17:25 WIB
Laporan 9 Bulan Adaro: Laba Tergerus, Pasar Domestik Jadi Penopang

Laporan kinerja sembilan bulan pertama 2025 PT Adaro Andalan Indonesia (AADI) baru saja dirilis. Intinya? Stabil, tapi dengan catatan. Tekanan dari harga batu bara yang lesu masih terasa jelas, membayangi pendapatan dan laba perusahaan.

Ambil contoh kuartal ketiga tahun ini. Pendapatan perseroan tercatat USD 1,21 miliar. Angka itu turun 2,1% dibanding kuartal sebelumnya, dan lebih parah lagi, anjlok 13,2% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara kumulatif, posisi hingga September 2025 menunjukkan pendapatan USD 3,61 miliar turun 10,9% year-on-year. Menurut Phintraco Sekuritas, angka ini baru memenuhi sekitar 70,5% dari estimasi mereka untuk kinerja penuh 2025.

Rontoknya pendapatan paling banyak bersumber dari segmen inti, yaitu pertambangan dan perdagangan batu bara, yang merosot 2,1% menjadi USD 1,16 miliar. Segmen lain pun tak kalah suram, pendapatannya cuma USD 5 juta atau terjun bebas 33,3%.

Di sisi lain, pasar domestik justru memberi angin segar. Sampai kuartal III-2025, pendapatan dari dalam negeri tumbuh 3% year-on-year menjadi USD 824 juta. Sayangnya, ini tak cukup untuk menahan gempuran dari pasar ekspor yang justru melemah 14,3% menjadi USD 2,78 miliar. Penyebabnya klasik: permintaan global yang lembek dan harga jual rata-rata (ASP) yang terus merosot.

Memang, perusahaan berusaha menghemat. Beban pokok pendapatan berhasil ditekan 9% menjadi USD 2,67 miliar. Biaya penambangan turun 1,9%, sementara royalti ke pemerintah bahkan melorot 31,2%. Namun begitu, efisiensi ini ternyata belum cukup.

Profitabilitas tetap terkorosi. Laba kotor turun 15,8% ke posisi USD 943 juta. Yang paling mencolok, EBITDA ambruk 34,8% year-on-year menjadi USD 811 juta. Ada dua pukulan berat di sini. Pertama, pendapatan lain-lain yang anjlok 88% setelah AADI melepas kepemilikan di PT Adaro Minerals Indonesia (ADMR) tahun lalu. Kedua, kontribusi laba dari entitas asosiasi yang nyaris hilang, tinggal USD 4 juta atau turun drastis 94,4%.

Akibatnya, laba sebelum pajak terkoreksi 39,1%. Laba bersih pun ikut terperosok 45,4% menjadi USD 587 juta. Margin laba bersih pun menyempit, dari yang sebelumnya 26,5% kini tinggal 16,3%.

Lalu, prospek ke depan bagaimana?

Phintraco Sekuritas dalam risetnya, Kamis (4/12), punya pandangan yang realistis. Mereka memperkirakan harga batu bara acuan global akan tetap tertekan di bawah level USD 110 per ton. Permintaan dari China dan India mungkin masih kuat, tapi itu tak cukup. Ada beberapa awan hitam di horizon: suplai dari produsen utama yang makin deras, tren penurunan konsumsi di negara maju, dan harga gas alam yang mulai normal.

China, pasar terbesar, diproyeksi akan memangkas impornya. Itu berita buruk untuk ekspor AADI, terutama dari sisi harga jual.

Meski memproyeksikan pendapatan AADI sepanjang 2025 turun 3,8%, Phintraco menilai perusahaan masih berada di jalur yang sesuai. Mereka mempertahankan rekomendasi "Buy" dengan nilai wajar Rp 10.200 per saham. Argumennya, saham AADI kini diperdagangkan pada PBV 1,03x lebih murah dari rata-rata setahunnya di 1,08x. Artinya, masih ada ruang untuk menguat jika harga batu bara membaik atau efisiensi produksi berjalan lebih baik lagi.

Jadi, meski kinerja tertekan, sejumlah analis masih melihat secercah potensi di balik awan kelabu pasar komoditas ini.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar