Perubahan besar terjadi di kepemilikan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA). PT XL Axiata Tbk (EXCL) baru saja melepas seluruh sahamnya di perusahaan tersebut. Tidak tanggung-tanggung, pelepasan ini mencakup 18,32 persen dari total saham MORA.
Transaksi jual-beli saham itu terjadi pada 4 Desember 2025. Menurut keterbukaan informasi yang dirilis sehari setelahnya, EXCL menjual sebanyak 4,33 miliar saham. Harga rata-ratanya Rp432 per lembar saham.
Nah, yang menarik perhatian adalah selisih harganya. Harga jual EXCL itu jauh lebih rendah tepatnya 95,1 persen lebih murah dibanding harga penutupan MORA di pasar. Pada Jumat (5/12), saham MORA ditutup di level Rp8.850 per saham. Perbedaan yang sangat signifikan, tentu saja.
Dari penjualan massal ini, EXCL berhasil mengumpulkan dana segar yang jumlahnya fantastis: sekitar Rp1,87 triliun. Perusahaan menyatakan langkah ini murni untuk tujuan divestasi. Siapa pembelinya? Itu masih menjadi misteri karena pihak pembeli belum diumumkan ke publik.
Ini bukan pelepasan saham pertama yang dialami MORA belakangan ini. Sebelumnya, pada 27 November, PT Candrakarya Multikreasi juga melakukan hal serupa. Mereka melepas 1,14 miliar saham atau setara 4,83 persen kepemilikan.
Dengan harga eksekusi Rp420 per saham, transaksi itu menghasilkan dana Rp480,06 miliar untuk Candrakarya Multikreasi.
Lantas, bagaimana komposisi pemegang saham MORA sekarang? Peta kepemilikannya telah berubah. PT Candrakarya Multikreasi kini memegang 35,99 persen, diikuti PT Gema Lintas Benua dengan 30,17 persen. Sisanya, sekitar 10,68 persen, beredar di tangan publik.
Dua transaksi besar dalam rentang waktu yang berdekatan ini jelas mengubah lanskap kepemilikan MORA. Apa dampak jangka panjangnya bagi strategi bisnis perusahaan? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Artikel Terkait
KOKA Raih Kontrak Konstruksi Silo Alumina Rp31,3 Miliar dari Anak Usaha ADMR
AEP Nusantara Holdings Kuasai 98,26% Saham Pinago Utama, Wajib Lakukan Tender Wajib
IHSG Siang Ini Menguat 0,65 Persen ke 7.102,72, Ditopang Sektor Non-Keuangan
OJK: Arus Dana Asing Keluar Akibat Geopolitik Global, Bukan Fundamental Ekonomi Domestik