KRL Jabodetabek Tembus 317 Juta Penumpang, Manggarai Jadi Simpul Terpadat

- Minggu, 07 Desember 2025 | 10:18 WIB
KRL Jabodetabek Tembus 317 Juta Penumpang, Manggarai Jadi Simpul Terpadat

Sepanjang Januari hingga November 2025, KAI Commuter mencatat angka yang cukup fantastis: lebih dari 317 juta penumpang telah menggunakan layanan KRL Jabodetabek. Rata-ratanya, setiap hari ada sekitar 951 ribu orang yang mengandalkan kereta listrik ini untuk mobilitas mereka.

Menurut Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI, arus penumpang itu tersebar di lima lintas utama. Lintas Bogor masih yang terpadat, dengan 141 juta lebih pengguna, disusul Cikarang (78 juta), Rangkasbitung (70 juta), Tangerang (24 juta), dan Tanjung Priuk (3,2 juta).

Kalau dilihat dari stasiunnya, pergerakan terbesar masih berpusat di titik-titik strategis. Stasiun Bogor memimpin dengan lebih dari 33 juta transaksi gate in-out, lalu Tanah Abang mendekati 30 juta. Sudirman, Citayam, dan Bekasi juga mencatat angka di atas 20 juta transaksi.

Di sisi lain, sejumlah stasiun lain juga ramai sekali. Sebut saja Depok Baru, Bojonggede, Tebet, Cawang, hingga Jakarta Kota. Semuanya mencatat aktivitas di atas 14 juta transaksi.

Namun begitu, sorotan utama tentu saja Stasiun Manggarai. Sebagai simpul transit terbesar, stasiun ini mencatat 52,4 juta transaksi transit. Belum lagi transaksi gate in-out reguler KRL yang mencapai 9,6 juta, ditambah 866 ribu dari layanan Commuter Line Bandara. Totalnya, Manggarai mencatat lebih dari 10,5 juta transaksi gate in-out dalam periode tersebut.

Anne Purba menegaskan, KAI saat ini fokus memperkuat integrasi antarmoda. Tujuannya jelas: membuat perjalanan warga Jabodetabek lebih mudah, efisien, dan tentu saja, ramah lingkungan.

"Mobilitas urban bergerak sangat cepat. Karena itu, kami membangun integrasi dari first–last mile hingga koneksi antarmoda agar pelanggan dapat berpindah dengan aman, mudah, dan nyaman,"

ujar Anne dalam keterangannya, Minggu (7/12).

Integrasi itu, kata dia, semakin nyata dengan terkoneksinya LRT Jabodebek dan Commuter Line. Dua titik kuncinya adalah Dukuh Atas dan Cikoko. Dari Dukuh Atas, penumpang bisa pindah ke Stasiun Sudirman. Sementara di Cikoko, tersedia hubungan langsung dengan Stasiun Cawang.

Nah, stasiun LRT Dukuh Atas sendiri ternyata yang tersibuk. Dari Januari-November 2025, tercatat 7,5 juta lebih transaksi gate in-out di sana. Secara keseluruhan, LRT Jabodebek telah digunakan oleh lebih dari 26 juta orang dalam periode yang sama.

Rata-ratanya, di hari kerja LRT mengangkut sekitar 98 ribu penumpang. Angka ini turun jadi sekitar 41 ribu di akhir pekan. Untuk rute Dukuh Atas–Jatimulya, rata-rata hariannya 56 ribu penumpang kerja. Sedangkan rute Dukuh Atas–Harjamukti sekitar 49 ribu.

Selain Dukuh Atas, stasiun LRT dengan pergerakan besar adalah Harjamukti (6 juta transaksi), Kuningan (4,7 juta), Cikoko (4,1 juta), dan Pancoran (3,7 juta).

Menurut Anne, konektivitas semacam ini sangat membantu memperlancar arus di stasiun-stasiun padat seperti Sudirman, Tanah Abang, dan Cawang. Perpindahan moda jadi lebih cepat, pilihan perjalanan lebih efisien. Pada akhirnya, transportasi publik benar-benar jadi tulang punggung mobilitas warga.

Upaya integrasi ini juga didukung fasilitas pendukung. KAI menyediakan parkir sepeda gratis plus water station di puluhan stasiun KRL. Fasilitasnya dilengkapi CCTV dan area pengamanan. Ada dua tipe rak: yang muat 8 sepeda lipat dan 10 sepeda biasa, serta rak berukuran 6 meter persegi yang bisa menampung 15 sepeda.

Parkir sepeda sudah tersedia di banyak stasiun. Mulai dari Pasar Minggu, Tebet, Lenteng Agung, Depok, hingga stasiun besar seperti Jakarta Kota dan Bekasi. Palmerah, Sawah Besar, Buaran, Tambun bisa dibilang cakupannya luas.

Untuk LRT Jabodebek, semua stasiunnya sudah punya parkir sepeda. Sebagian besar juga dilengkapi water station untuk isi ulang air minum. Fasilitas ini sengaja disediakan seiring tingginya animo masyarakat.

"KAI Group sedang membangun ekosistem transportasi yang semakin terhubung. Ketika masyarakat dapat dengan mudah berpindah dari sepeda ke KRL dan LRT serta moda transportasi lainnya, kota menjadi lebih sehat, bersih, dan rendah emisi,"

tutup Anne.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar