Setelah melalui pembicaraan yang panjang, akhirnya investor itu setuju. Dan dampaknya langsung terasa.
Dengan adanya pabrik di Morowali, harga kelapa di tingkat petani domestik diprediksi bakal naik. Kenapa? Karena biaya logistik pengiriman ke China tidak lagi membebani.
“Karena mereka tidak lagi perlu memperhitungkan biaya logistik pengiriman kelapa dari dari Indonesia ke China. Dan kita juga akan mulai di beberapa daerah lainnya,”
tutur Rosan.
Ia menekankan, ini adalah capaian penting hilirisasi di sektor perkebunan, khususnya kelapa. Di sisi lain, potensinya masih sangat terbuka lebar. Kelapa itu produk turunannya banyak sekali.
“Ini (kelapa) produk turunannya kan sangat banyak. Nah ini yang kita lakukan, biar value added-nya itu ada di kita. Nilai tambahnya ada di kita. Penciptaan lapangan kerjanya ada di kita,”
kata dia.
Intinya, dengan pabrik ini, seluruh efek ekonomi mulai dari nilai tambah, penciptaan lapangan kerja, hingga peningkatan pendapatan petani diharapkan bisa dinikmati langsung di dalam negeri. Langkah selanjutnya? Kemungkinan replikasi di daerah-daerah penghasil kelapa lainnya.
Artikel Terkait
OJK dan Bareskrim Geledah Mirae Asset Terkait Dugaan Manipulasi IPO dan Saham BEBS
IHSG Anjlok 4,57%, Saham Ifishdeco (IFSH) Melonjak 25%
Data KSEI Ungkap Pemerintah Norwegia Miliki Saham 24 Emiten di BEI
IHSG Anjlok 4,6% Dihajar Ketegangan Timur Tengah dan Revisi Outlook Fitch