Menlu Sugiono Serahkan Surat Belasungkawa Prabowo untuk Iran, Bahas Eskalasi Timur Tengah

- Rabu, 04 Maret 2026 | 22:20 WIB
Menlu Sugiono Serahkan Surat Belasungkawa Prabowo untuk Iran, Bahas Eskalasi Timur Tengah

Rabu lalu, di tengah situasi yang masih tegang, Menteri Luar Negeri Sugiono menemui Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi. Pertemuan itu bukan sekadar formalitas biasa. Ada pesan penting yang dibawa dari Istana.

Sugiono menyerahkan sepucuk surat. Isinya? Ungkapan belasungkawa terdalam dari Presiden Prabowo Subianto, menyusul wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Khamenei meninggal setelah serangan yang dilancarkan oleh Israel dan Amerika Serikat di akhir Februari lalu.

“Saya juga menyampaikan surat dari Presiden @prabowo kepada Presiden Masoud Pezeshkian yang menyampaikan belasungkawa terdalam Iran atas wafatnya Yang Mulia Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran,”

Begitu bunyi cuitan Menlu Sugiono di akun X-nya, menegaskan isi pertemuan tersebut.

Namun begitu, percakapan mereka tak hanya berhenti di situ. Pertemuan itu juga membahas situasi panas di Timur Tengah yang kian mencekam. Sugiono dengan jelas menyuarakan posisi Indonesia.

Ia menekankan, sekarang lebih dari ever, penghormatan pada hukum internasional dan Piagam PBB itu mutlak. “Saya menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, serta kebutuhan mendesak untuk mencegah eskalasi lebih lanjut melalui diplomasi,” ujarnya.

Intinya, jalan damai lewat diplomasi harus didahulukan.

Serangan yang memicu duka itu sendiri terjadi pada Sabtu, 28 Februari 2026. Menurut sejumlah saksi dan media setempat, serangan pertama langsung menyasar kantor Ayatollah Ali Khamenei di Teheran. Kepulan asap hitam membubung tinggi di pusat kota, menggambarkan kepanikan yang terjadi di tanah itu.

Seorang pejabat AS kemudian mengonfirmasi. Ya, serangan ke Iran itu adalah operasi militer gabungan antara AS dan Israel. Respons dari Israel pun cepat. Militer mereka langsung menyatakan keadaan darurat dan memerintahkan warga untuk segera berlindung.

Dalam keributan dan kesedihan itulah, diplomasi tetap harus bekerja. Seperti yang coba dilakukan Indonesia lewat pertemuan Rabu itu.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar