Pantau - Menjelang Idul Fitri, pemerintah tak mau main-main soal harga pangan. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengandalkan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) sebagai mata dan telinga utama untuk mengawasi situasi.
Intinya, sistem ini harus bisa mencegah lonjakan harga yang tak terkendali. Caranya? Dengan memantau pergerakan harga di lapangan secara ketat, hampir real-time.
Data Harian Jadi Senjata Andalan
Kunci dari sistem ini ada pada pembaruan datanya. Budi Santoso menekankan, data di SP2KP diperbarui tiap hari. Ini bukan sekadar angka statis, melainkan gambaran langsung yang memungkinkan respons cepat.
"SP2KP setiap hari diupdate jadi tahu perkembangan harga," ujarnya.
"Sehingga kita nanti cepat antisipasi kalau ada daerah tertentu yang harganya naik, kita langsung koordinasi dengan pemasok dan satgas pangan."
Dengan kata lain, sistem itu berfungsi seperti radar. Ia akan segera menandai titik-titik merah pasar atau wilayah mana saja yang harganya mulai merangkak naik. Begitu terdeteksi, intervensi langsung dilakukan.
"Nanti kalau ada kenaikan, maka segera kita intervensi kita koordinasi dengan komponen pemerintah daerah dan dengan pemasok," jelas Budi.
Tak Cukup Hanya Pantau dari Jakarta
Namun begitu, sistem canggih saja tidak cukup. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan juga menggenjot koordinasi langsung. Mereka menjalin komunikasi intens dengan pemerintah daerah dan para distributor besar.
Tujuannya jelas: menjaga stok tetap aman dan harga stabil. Sebelumnya, rapat koordinasi nasional pun sudah digelar, melibatkan daerah dan para pemasok untuk menyamakan langkah.
"Kemarin kita sudah rakor dengan pemerintah daerah se-Indonesia dan juga para distributor (upaya pengendalian harga)," tuturnya.
Langkah-langkah ini diuji saat Budi Santoso turun ke Pasar Terong, Makassar, Rabu lalu. Ia didampingi Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman. Hasilnya? Secara umum, kondisi pasar terpantau stabil.
Harga telur, misalnya, berkisar di angka Rp30 ribu. Yang cukup mengejutkan, harga ayam justru berada di bawah patokan yang ditetapkan pemerintah.
"Tadi kita cek harga-harga bagus ya," kata Budi Santoso, menyebutkan contoh. "Telur Rp30 ribu kemudian ayam Rp38 ribu padahal HET-nya Rp41 ribu, itu kan bagus."
Sebuah tanda yang menggembirakan, setidaknya untuk saat ini. Tapi perjalanan menuju Lebaran masih panjang. Pemerintah tampaknya siap siaga.
Artikel Terkait
Getaran Misterius Guncang Tiga Blok di Desa Cipanas Cirebon, Warga Panik
NEXT Indonesia Center: Ekonomi 2026 Masih Berpeluang Tumbuh di Atas 5 Persen
Ledakan Populasi Ikan Sapu-sapu Ancam Ekosistem Perairan Indonesia
Satpol PP Gerebek Pesta Miras di Indekos Metro, 7 Remaja Putri Diamankan