Jejak buku 'Rasa Bhayangkara Nusantara' kian meluas. Tak cuma di London atau Davos, kini karyanya sampai juga di Kedutaan Besar Jepang untuk Indonesia. Sebuah langkah lagi yang menunjukkan betapa diplomasi budaya kita makin mendapat tempat.
Rabu lalu (4/3/2026), dalam acara buka puasa bersama Ikatan Sakura Indonesia, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo menyerahkan buku itu langsung ke Charge d'Affaires ad interim Kedubes Jepang. Judul lengkapnya, Taste of Nusantara: 80 Bhayangkara Menu for Indonesia's Free Nutritious Meals Program. Momen sederhana ini punya makna yang dalam, terutama untuk hubungan kedua negara.
Kenapa? Karena kerja sama Indonesia-Jepang di bidang reformasi kepolisian lewat JICA sudah berlangsung lama. Dukungan mereka untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme Polri sejak era reformasi menjadi latar yang pas. Kehadiran buku ini di sana seperti menyempurnakan narasi kerja sama yang sudah terjalin.
Kalau kita lihat perjalanannya, buku ini memang tak berhenti di satu tempat. Setelah London dan Davos, ia terbang ke Washington DC, lalu ke Jeddah. Setiap persinggahan punya ceritanya sendiri. Di forum elit seperti World Economic Forum di Davos, misalnya, buku ini jadi cara Indonesia memamerkan pendekatannya yang unik: memadukan kebijakan strategis dengan budaya dan program sosial.
Menurut Dirgayuza Setiawan, Asisten Khusus Presiden yang ikut menulis buku ini bersama Komjen Dedi, sejak awal karya ini memang dirancang sebagai alat diplomasi.
"Buku Rasa Bhayangkara Nusantara kami tulis sebagai jembatan komunikasi kebijakan Indonesia kepada dunia. Melalui pendekatan budaya yang universal, masyarakat internasional dapat memahami bagaimana Indonesia menjalankan Program Makan Bergizi Gratis dengan kekuatan kearifan lokal dan keberagaman pangan nasional,"
Dirgayuza menambahkan, diplomasi zaman sekarang butuh cerita yang inklusif dan mudah dicerna, sesuatu yang menyentuh sisi kemanusiaan.
Di sisi lain, Komjen Dedi Prasetyo melihat buku ini sebagai bukti sinergi. Sinergi antara kebijakan negara, kekayaan budaya, dan peran institusi seperti Polri.
"Buku ini kami tulis bersama sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkenalkan wajah Indonesia yang humanis, kuat secara budaya, dan progresif dalam kebijakan. Kehadirannya di berbagai pusat dunia menunjukkan bahwa gastrodiplomasi Indonesia mampu menjadi bagian penting dan selaras dengan diplomasi bangsa,"
Gastrodiplomasi, Wajah Baru Diplomasi?
Intinya, 'Rasa Bhayangkara Nusantara' lebih dari sekadar kumpulan 80 resep. Buku ini membawa misi besar: menjelaskan program Makan Bergizi Gratis Polri sebagai prioritas nasional. Dari Eropa, Amerika, Timur Tengah, hingga kini Asia Timur, pesannya terus bergaung.
Pesan itu sederhana tapi kuat: bahwa kebijakan strategis bisa disampaikan lewat budaya, bahwa keamanan dan kemanusiaan bisa berjalan seiring. Gastrodiplomasi, rupanya, sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari cara Indonesia bersuara di dunia. Dan langkah kecil di Kedubes Jepang itu adalah buktinya. Sebuah bukti bahwa karya anak bangsa bisa melampaui batas, memperkuat posisi kita dengan cara yang komunikatif dan punya daya pikat sendiri.
Artikel Terkait
JPPI Soroti Sistem Feodal dan Lemahnya Satgas PPKS sebagai Akar Pelecehan Seksual di Kampus
Pemprov DKI Siapkan Mitigasi Pasokan Pangan dan Energi Hadapi Ancaman El Nino
Polisi Amankan 32 Ribu Butir Obat Terlarang dan Lima Pelaku di Sawah Besar
Vitor Baia Kagumi Antusiasme Fans dan Fasilitas GBK Usai Clash of Legends