Suasana di Madrasah Aliyah Negeri 1 Langkat, Tanjung Pura, Sabtu lalu, terasa berbeda. Kehadiran Presiden Prabowo Subianto, yang didampingi Mendagri Tito Karnavian dan sejumlah menteri, langsung memecah kesunyian tempat pengungsian. Rupanya, kunjungan ini bukan sekadar formalitas. Tujuannya jelas: memastikan penanganan pasca banjir yang melanda Langkat berjalan cepat dan terkoordinasi dengan baik.
Warga, yang masih terlihat lelah, menyambut dengan antusias. Bukan cuma untuk melihat wajah pemimpin mereka dari dekat, tapi juga untuk menyampaikan uneg-uneg. Keluhan dan aspirasi mengalir, berpusat pada hal-hal yang paling mendasar: air bersih, makanan, dan bagaimana mereka bisa melanjutkan hidup setelah bencana ini.
Dalam dialog yang cair, Prabowo tak banyak berbelit. Ia menegaskan komitmen pemerintah untuk bertindak cepat. Mulai dari mengatasi kelangkaan air minum hingga membenahi tanggul yang jebol. "Saya akan kerahkan semua kekuatan," tegasnya.
"Alhamdulillah, kondisi Sumatera Utara sudah lebih baik," kata Presiden Prabowo, Sabtu (13/12/2025).
Ia pun memastikan akan menurunkan personel TNI dan Polri untuk mempercepat pemulihan di sejumlah kecamatan yang masih terendam. Pemantauan terhadap kondisi pengungsi, menurutnya, akan terus dilakukan sampai aktivitas warga benar-benar pulih. Pesannya sederhana: tetap tegar. Pemerintah, kata dia, tak akan tinggal diam.
"Kami akan membantu semua warga yang mengalami musibah. Saudara-Saudara adalah bagian dari keluarga kami. Kami tidak akan membiarkan Saudara-Saudara sendiri," ujar Prabowo, sambil berterima kasih pada para relawan yang telah bekerja keras.
Di sisi lain, kehadiran itu membawa secercah harapan bagi warga seperti Nurul Akmal. Ia berharap bantuan bahan pokok dan pakaian segera tiba. Tapi yang paling dikhawatirkannya adalah tanggul. "Kalau tidak segera diperbaiki, kalau hujan lagi rumah kami akan kebanjiran lagi," ucapnya prihatin.
Nurul juga menyempatkan menyampaikan aspirasi spesifik kepada Mendagri Tito. Ia mendorong rencana penghapusan biaya pengurusan dokumen penting bagi korban bencana.
"Banyak korban di sini tidak sempat menyelamatkan ijazah dan sertifikat tanah saat banjir. Kami sangat berharap kebijakan pengurusan dokumen gratis ini bisa segera dilaksanakan," kata Nurul.
Harapan serupa diungkapkan Laila Hayati, warga Tanjung Pura lainnya. Menurutnya, kedatangan rombongan presiden sedikit meredakan kegelisahan warga yang masih belum bisa pulang karena rumahnya terendam. Selain perbaikan infrastruktur, Laila berharap pemulihan dokumen kependudukan bisa segera direalisasikan.
"Kalau bisa, Pak Mendagri yang katanya mau menggratiskan pengurusan dokumen untuk korban banjir, agar disegerakan," pinta Laila.
Sebelumnya, dalam berbagai koordinasi, Tito sudah mengingatkan bahwa banjir dan longsor di Aceh, Sumut, dan Sumbar harus jadi perhatian serius. Apalagi dengan prediksi BMKG soal curah hujan tinggi dan pasang naik. Ia menekankan pentingnya solidaritas antar daerah, mengingat keterbatasan anggaran penanganan bencana di sejumlah wilayah. Bantuan dari daerah lain, ujarnya, sangat berarti.
"Itu sangat-sangat bermanfaat untuk mereka yang ada di daerah terdampak bencana," ucap Tito.
Tito juga menyoroti kebutuhan yang sering terlewat: kebutuhan pribadi. Ia membayangkan betapa sulitnya korban yang kehilangan segala-galanya.
"Kita bayangkan banyak sekali saudara-saudara kita yang enggak memiliki pakaian luar maupun pakaian dalam, bayi yang tidak memiliki popok, ibu-ibu wanita untuk peralatan perempuan. Banyak sekali kebutuhan-kebutuhan yang kecil-kecil yang mereka sangat diperlukan," pungkasnya.
Kunjungan presiden kali ini juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi, seperti Mensesneg Prasetyo Hadi, Mensos Saifullah Yusuf, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri PU Dody Hanggodo, serta Gubernur Sumut Bobby Nasution. Kehadiran mereka jadi penegas bahwa penanganan bencana ini menjadi prioritas bersama.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi