Direktur NCTC Mundur, Protes Kebijakan Perang AS-Iran

- Rabu, 18 Maret 2026 | 01:00 WIB
Direktur NCTC Mundur, Protes Kebijakan Perang AS-Iran

Sebuah pengunduran diri yang mengguncang Washington. Joseph Kent, sang Direktur National Counterterrorism Center (NCTC), memutuskan untuk angkat kaki. Pengumuman itu ia sampaikan lewat Platform X pada 18 Juni 2025, buah dari perenungan panjangnya menyikapi perang antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berkecamuk.

Alasannya sederhana namun berat: hati nuraninya tak lagi sanggup. Dalam unggahan itu, Kent dengan tegas menyatakan Iran bukanlah ancaman yang mendesak bagi AS. Baginya, mendukung operasi militer ini terasa janggal, bahkan bertentangan dengan prinsipnya sebagai seorang pejabat keamanan nasional.

“Saya tidak bisa lagi mempertahankan posisi ini,” tulisnya.

Ia pun menyoroti akar masalahnya. Menurut Kent, perang ini lebih banyak dipicu desakan politik dari Israel dan jaringan lobi yang kuat di dalam negeri, ketimbang oleh pertimbangan keamanan nasional yang murni. Keputusan untuk berperang, dalam pandangannya, telah melenceng jauh.

Pengunduran dirinya ini punya bobot sejarah. Kent adalah pejabat paling senior pertama di era Presiden Donald Trump yang mundur secara terbuka karena konflik Iran. Langkahnya ini seperti membuka tirai, memperlihatkan retakan dan ketegangan yang selama ini mungkin tersembunyi di balik tembok keamanan nasional Washington. Sepertinya, tidak semua orang di dalamnya sepakat dengan jalan yang ditempuh.

Dalam surat resmi untuk Presiden Trump, Kent mengingatkan kembali janji “America First”. Janji untuk tidak lagi terjerumus dalam perang panjang di Timur Tengah yang telah menelan banyak nyawa prajurit dan menguras kantong negara selama dua dekade. Ia memuji pendekatan Trump di masa awal pemerintahan dulu, yang dinilainya efektif dan terukur seperti operasi yang menewaskan Jenderal Iran Qasem Soleimani, atau strategi melawan ISIS tanpa harus menyeret Amerika ke dalam kubangan konflik besar.

Namun begitu, situasi kini berubah. Kent menilai ada kampanye misinformasi yang sengaja digulirkan. Sebagian pejabat dan jaringan keamanan, katanya, mendorong narasi bahwa Iran adalah ancaman nuklir yang langsung. Pola ini mengingatkannya pada retorika usang yang pernah dipakai untuk membenarkan invasi ke Irak tahun 2003 silam.

“Sebagai veteran dengan sebelas penugasan tempur, saya tak bisa mendukung kebijakan yang berpotensi mengirim generasi baru anak muda kita ke medan perang yang tidak jelas manfaat strategisnya,” tulis Kent.

Di sisi lain, keputusannya ini juga dilandasi tanggung jawab personal. Sebagai seorang ayah, ia tak ingin menyaksikan generasi muda Amerika kembali menjadi korban dalam konflik geopolitik yang sebenarnya bisa dihindari. Ini soal moral, lebih dari sekadar politik.

Lantas, bagaimana reaksi di kalangan dalam? Sumber-sumber intelijen Washington mengaku terkejut. Kent dikenal dekat dengan Direktur Intelijen Nasional, Tulsi Gabbard, yang sejak konflik pecah memilih bersikap sangat tertutup dan jarang muncul di publik. Gabbard sendiri hingga kini bungkam, kecuali saat ia hadir dalam upacara pemulangan jenazah prajurit AS yang gugur di awal bulan.

Dampak hukumnya pun mulai diperbincangkan. Sejumlah pakar berpendapat, doktrin hukum AS mensyaratkan adanya ‘ancaman langsung’ untuk membenarkan sebuah perang tanpa persetujuan penuh Kongres. Pengunduran diri Kent berpotensi memanaskan kembali debat soal legitimasi konstitusional operasi militer ini.

Sampai berita ini diturunkan, Gedung Putih dan Kantor Direktur Intelijen Nasional masih belum memberi tanggapan resmi. Sementara itu, pernyataan Kent di Platform X terus menyebar seperti api, memicu diskusi global tentang arah kebijakan luar negeri Amerika di kawasan Timur Tengah yang tak pernah benar-benar reda.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar