JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintahan Prabowo Subianto terus bergulir. Targetnya jelas: membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Namun, program sebesar ini tentu tak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Peran swasta kini makin terlihat, dan kontribusi mereka ternyata cukup signifikan di lapangan.
Dukungan dari korporasi ini bukan sekadar bantuan biasa. Mereka membantu memperluas jangkauan dan mempermudah distribusi, yang pada akhirnya membuat program ini lebih efisien. Intinya, ada solidaritas yang terbangun untuk masa depan anak-anak Indonesia. Soalnya sederhana, kalau anak-anak dapat gizi baik hari ini, dampaknya akan terasa bertahun-tahun ke depan baik di bangku sekolah maupun saat mereka produktif nanti. Ini memang jadi kepentingan bersama.
Menariknya, dampak MBG sudah mulai terlihat di beberapa daerah. Menurut Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, wilayah yang sudah menjalankan program ini setahun penuh menunjukkan perubahan. Kehadiran siswa di sekolah meningkat, mereka lebih aktif belajar, dan secara fisik lebih kuat saat beraktivitas.
“Begitu ada program makan bergizi, dia bangun lebih awal dan membangunkan neneknya,”
kisah Dadan tentang seorang anak di Papua. Cerita kecil itu cukup menggambarkan semangat yang muncul.
Di sisi lain, salah satu bentuk konkret dukungan swasta datang dari PT Triputra Agro Persada Tbk. Mereka punya program bernama Sehati, singkatan dari Susu Sehat Bernutrisi. Program ini memberikan susu secara rutin kepada anak-anak sekolah di sekitar wilayah operasi perusahaan, seperti di Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Sehati sendiri merupakan bagian dari inisiatif “TAP untuk Negeri” yang fokus pada kesehatan dan pendidikan generasi muda. Tujuannya jelas: membantu memenuhi gizi anak, mencegah stunting, dan mendukung tumbuh kembang mereka di usia sekolah.
“Saya suka minum susu, selain rasanya enak juga bisa bikin tambah kuat belajar dan main bola. Terima kasih TAP,”
ujar Antonius, siswa SDN 2 Jahitan di Seruyan, Kalimantan Tengah, dengan polos.
Menurut Misnawati, Kepala TK Tunas Bahandep, pemberian susu ini punya makna lebih dari sekadar tambahan gizi. “Ini juga bentuk kepedulian perusahaan terhadap pendidikan dan kesehatan calon penerus bangsa,” jelasnya.
Implementasi program Sehati sendiri tak berjalan sendirian. Ada sokongan dari berbagai pihak lain, menciptakan sinergi lintas sektor yang diperlukan untuk memastikan distribusi bantuan gizi ini tepat sasaran dan berkelanjutan. Kolaborasi semacam inilah yang kelihatannya menjadi kunci agar MBG benar-benar bisa dirasakan manfaatnya hingga ke daerah-daerah.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020