Asap mengepul di halaman TPP KPPBC Tanjung Emas, Semarang, Selasa lalu. Di sana, Bea Cukai Jawa Tengah dan DIY memusnahkan barang-barang sitaan senilai miliaran rupiah. Yang paling mencolok? Tumpukan rokok ilegal setinggi gunung tepatnya 24 juta batang. Kalau diuangkan, nilainya mencapai Rp 35 miliar, dengan potensi cukai yang terpangkas sekitar Rp 17,9 miliar.
Namun begitu, rokok bukan satu-satunya barang yang jadi sasaran pemusnahan. Ada juga ribuan karton minuman keras, total 37.000 liter, ikut dihancurkan. Barang-barang lain seperti kosmetik ilegal bernilai ratusan juta hingga peralatan seks atau sex toys juga tak luput dari razia dan akhirnya dimusnahkan.
Menurut Kepala Kanwil Bea Cukai setempat, Imik Eko Putro, tren barang ilegal yang berhasil diamankan justru menunjukkan peningkatan. Ia menyebut angka tahun ini lebih tinggi dibanding periode sebelumnya.
“Tantangan yang kita hadapi dari kegiatan pemusnahan kali ini, kalau dibandingkan data penindakan tahun 2024, ada peningkatan baik rokok ilegal maupun minuman mengandung alkohol,” ujar Imik usai acara pemusnahan.
Ia lalu merinci datanya. Sepanjang 2024, petugas sudah menindak 118,9 juta batang rokok ilegal. Nah, hingga November 2025 saja, angkanya sudah melonjak jadi 129 juta batang. Peningkatan serupa terjadi pada minuman beralkohol, dari 27,9 ribu liter tahun lalu menjadi 52,9 ribu liter di tahun ini.
“Artinya meningkat. Demikian juga minuman mengandung etil alkohol, dari 27,9 ribu liter pada 2024 menjadi 52,9 ribu liter hingga November 2025. Ini artinya tantangan yang dihadapi meningkat,” jelasnya.
Di sisi lain, modus penyelundupan makin kreatif. Makanya, pengawasan kini diperketat, terutama di perbatasan dengan Jatim dan Jabar. Patroli di marketplace atau toko online juga digencarkan. Mereka tak bekerja sendirian; kolaborasi dengan aparat penegak hukum dan mitra lain terus diintensifkan.
“Karena banyak modus yang digunakan untuk mengelabui petugas. Misalnya truk pendingin, ternyata isinya barang ilegal,” kata Imik.
Komitmennya jelas: menjaga penerimaan negara dan mendukung program pemerintah di tengah maraknya peredaran barang ilegal. Ia juga menyentuh harapan akan dukungan publik.
“Kami memahami aspirasi masyarakat terkait kinerja Bea Cukai selama ini, dan kami berharap dukungan dari semua pihak agar program perbaikan yang kami jalankan berhasil dengan baik sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujar Imik.
Jadi, pemusnahan besar-besaran ini bukan sekadar seremoni. Ini sinyal bahwa pengawasan diperkuat, meski tantangan di lapangan ternyata makin berat.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 3,38 Persen ke 7.129, Seluruh Sektor Saham Merah
Saham ICBP Anjlok 47% dari Puncak, Sentimen Timur Tengah dan Kenaikan Biaya Bahan Baku Jadi Tekanan
Hua Yan dan Andalan Sakti Inti Batal Negosiasi Akuisisi 51,18% Saham Ansa Land
IHSG Anjlok 3,06 Persen, Lima Hari Beruntun Terkoreksi Imbas Tekanan Jual Saham Konglomerat dan Perbankan