PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk, atau yang lebih dikenal dengan kode INET, sedang bersiap untuk aksi korporasi besar-besaran. Mereka berencana menggelar right issue senilai Rp3,2 triliun. Tujuannya jelas: mendanai ekspansi infrastruktur digital yang lebih agresif. Visinya ambisius, ingin menjadi tulang punggung konektivitas digital di Indonesia.
Menurut Muhammad Arif, Direktur Utama INET, langkah ini bukan sekadar menambah modal. Dana segar itu akan dipakai untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur generasi mendatang. "Kami akan secara agresif memperluas jaringan FTTH dengan teknologi Wi-Fi 7 terbaru, terutama di Bali, Lombok, dan Jawa, serta memperkuat sistem kabel laut kami, termasuk rute penting Jakarta-Batam-Singapura," jelas Arif dalam keterangan resmi, Selasa (2/12/2025).
Rincian alokasi dananya cukup detail. Mayoritas, sekitar Rp2,8 triliun, akan disuntikkan ke anak usahanya, PT Garuda Prima Internetindo (GPI). Angka sebesar itu ditujukan untuk membangun dua juta koneksi Fiber to the Home (FTTH) di wilayah Bali dan Lombok.
Lalu, ada Rp213 miliar untuk PT Pusat Fiber Indonesia guna pembayaran hak pakai kabel laut. Sementara Rp135 miliar lagi dialokasikan ke PT Internet Anak Bangsa guna perluasan FTTH di Jawa. Sisanya? Untuk modal kerja dan operasional.
Namun begitu, ekspansi INET tak cuma mengandalkan pembangunan dari nol. Mereka juga merambah lewat jalur akuisisi. Dua perusahaan masuk dalam bidikan: PT Trans Hybrid Communication (THC) dan PT Personel Alih Daya Tbk (PADA).
THC, yang bergerak di layanan IP transit dan data center, akan diakuisisi 60% sahamnya. Sementara PADA, perusahaan outsourcing ternama dengan lebih dari 8.000 karyawan, akan dikuasai 53,57% sahamnya.
Arif melihat kedua akuisisi ini sebagai penguat ekosistem. THC akan melengkapi layanan konektivitas dan interkoneksi data center. Di sisi lain, PADA diharapkan bisa memperkuat kapabilitas pendukung bisnis secara lebih luas.
“Ini adalah bagian dari strategi terintegrasi kami untuk menawarkan solusi digital yang komprehensif, dari konektivitas lintas pulau hingga layanan last-mile FTTH menggunakan teknologi termutakhir,” ujar Arif.
Yang menarik, komitmen dari pemegang saham utama juga terlihat solid. PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara, yang menguasai 60,62% saham INET, berkomitmen penuh menyerap haknya senilai Rp1,78 triliun. Mereka bahkan siap menjadi pembeli siaga untuk saham senilai Rp1,41 triliun lagi. Ini sinyal kepercayaan yang kuat dari dalam.
Secara teknis, right issue ini akan menerbitkan 12,8 miliar saham baru dengan harga Rp250 per lembar. Rasio pelaksanannya, tiga saham lama berhak membeli empat HMETD. Ada juga insentif tambahan berupa Waran Seri II, di mana setiap 50 saham baru yang dibeli akan memberikan 9 waran dengan harga eksekusi Rp300 per saham.
Semua langkah ini menunjukkan satu hal: INET serius ingin bermain di liga yang lebih tinggi. Mereka tak hanya membangun jaringan, tapi juga menyusun puzzle bisnis digital yang lebih lengkap. Hasilnya? Kita lihat saja nanti.
Artikel Terkait
MINE Klaim Operasional Tak Terdampak Pemangkasan RKAB Nikel 2026
Wall Street Menguat Didorong Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
BI: Ketegangan Timur Tengah Persempit Ruang The Fed Turunkan Suku Bunga