Kondisi itu rupanya memacu optimisme. Target swasembada yang semula direncanakan empat tahun, disebutnya bisa tercapai lebih cepat bahkan tahun ini.
Tapi, temuan beras ilegal seperti di Batam dan Sabang berpotensi besar menggoyahkan kondisi itu. Amran bilang, dampak psikologisnya sama saja, entah itu 1 liter atau 1 juta ton beras ilegal.
"Petani kita harus dijaga, itu 100 juta lebih," tuturnya.
Sementara itu, kanal pengaduan "Lapor Pak Amran" kembali ramai. Sudah dua ribuan lebih laporan dari masyarakat yang masuk. Amran berjanji akan mendalami semuanya.
Beberapa laporan bahkan sudah ditindaklanjuti. Mulai dari pungutan liar terkait traktor, lonjakan harga pupuk, sampai kasus pupuk palsu.
"Ada yang mengambil fee untuk traktor, ada harga pupuk naik langsung kita cabut izinnya. Pupuk palsu ada juga. Kami langsung kirim tim ke daerah," ungkapnya.
Jelas, persoalan beras ilegal ini bukan cuma soal angka. Tapi lebih ke bagaimana menjaga semangat mereka yang menghidupi negeri dari sawah dan ladang.
Artikel Terkait
MNC Asset Management dan SF Sekuritas Gelar IG Live Bahas Investasi Syariah Jelang Ramadan
Astra Siap Bagikan Dividen Final Rp15,8 Triliun pada Pertengahan 2026
Harga Emas Pegadaian Naik Tipis, Galeri24 Tembus Rp3,06 Juta per Gram
GoTo Buka Suara Soal Investasi Google dan Posisi Nadiem Makarim