Hilirisasi mineral ini rupanya menjadi salah satu dari empat prioritas utama kepresidenan G20 Afrika Selatan tahun ini. Tiga prioritas lainnya tak kalah penting. Ramaphosa memaparkan soal penguatan ketahanan bencana, mencari solusi keberlanjutan utang bagi negara berpendapatan rendah, dan yang tak kalah pelik: pembiayaan untuk transisi energi yang adil. Keberhasilan dalam agenda-agenda inilah yang nantinya akan menentukan nasib negara berkembang. Apakah mereka bisa mencapai pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan, atau justru tertinggal lebih jauh.
Dalam forum tersebut, Afrika Selatan juga membawa suara dan aspirasi dari Global South. Intinya, mereka mendesak adanya kemitraan multilateral yang lebih kuat, terutama untuk membuka akses pendanaan pembangunan. Ramaphosa berargumen, tanpa upaya serius untuk memperbaiki arsitektur keuangan global dan meningkatkan investasi jangka panjang, negara-negara berkembang akan sulit mengejar ketertinggalan.
Sebagai penutup, Ramaphosa mengajak semua pihak untuk memperkuat komitmen kolektif. Di tengah berbagai tantangan global mulai dari ketegangan geopolitik yang memanas hingga ancaman krisis iklim kerja sama internasional adalah kunci. Dan bagi dia, hilirisasi mineral kritis adalah salah satu jalan nyata menuju pertumbuhan yang inklusif serta stabilitas ekonomi global yang lebih terjaga.
Artikel Terkait
Cimory Catat Laba Bersih Rp2,03 Triliun di 2025, Tumbuh 33,8 Persen
Direktur BLTA A Yulian Hery Ernanto Mundur, Saham Anjlok 2,38%
MNC Asset Management dan SF Sekuritas Gelar IG Live Bahas Investasi Syariah Jelang Ramadan
Astra Siap Bagikan Dividen Final Rp15,8 Triliun pada Pertengahan 2026