Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman kembali menemukan praktik tak sedap yang merugikan petani. Setelah sebelumnya menertibkan distributor pupuk nakal, kini giliran kasus pungutan liar (pungli) dan penyalahgunaan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) yang dibongkar. Ada 31 kasus yang terungkap, padahal bantuan ini seharusnya diberikan cuma-cuma.
"Dari ribuan bantuan alsintan yang kami salurkan, kami dapat laporan, masih ada 31 kasus yang bermasalah," kata Amran kepada wartawan di Jakarta, Jumat (20/11).
Ia menjelaskan, di lapangan masih ada saja yang minta fee, menarik biaya administrasi, atau bahkan mewajibkan petani membayar dulu sebelum traktor bisa diterima. Padahal, tegasnya, semuanya gratis.
Menurut Amran, modus seperti ini bukan hal baru. Polanya kerap berulang, terutama pada bantuan yang dikirim dari pusat. Oknum tertentu memanfaatkan situasi dan ketidaktahuan petani.
"Itu tidak boleh. Itu bantuan gratis untuk petani," tegasnya.
Di sisi lain, Amran memastikan seluruh kasus yang terungkap telah dilimpahkan ke penegak hukum di daerah untuk diproses. "Yang 31 ini kami langsung kirim ke penegak hukum setempat. Kalau ada pidana, ya dipidanakan. Kami akan cek lagi langsung di lapangan," ujar Mentan tanpa tedeng aling-aling.
Ia pun meminta para petani untuk berani melapor jika menemui pungutan atau penyimpangan. Saluran pengaduannya tetap dibuka, dan setiap laporan akan ditindaklanjuti. Nomor WhatsApp 0823-1110-9690, yang dikenal sebagai Lapor Pak Amran, masih aktif.
"Sejak kami jadi menteri, pengaduan sudah kami buka dan sampai sekarang tetap kami jalankan. Kalau ada pungutan, laporkan saja ke nomor yang sudah kami sampaikan," ujarnya.
Pengawasan memang semakin diperketat, terlebih sejak pemerintah menurunkan harga pupuk subsidi sebesar 20 persen dan menyalurkan bantuan alsintan senilai triliunan rupiah. Dengan langkah tegas ini, Amran ingin memastikan setiap rupiah bantuan dan setiap unit alsintan benar-benar sampai ke tangan petani. Tanpa pungutan, tanpa permainan.
"Kita harus kontrol ketat. Jangan sampai ada yang bermain. Alhamdulillah sekarang ada PPL yang dikendalikan langsung di daerah, sehingga lebih mudah memantau penyimpangan di lapangan. Pengawasan jadi sangat mudah, kami minta jangan ada lagi yang mainkan bantuan ya," tutur Amran menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
PTPP Rampungkan Struktur Utama Gedung RS Jantung Internasional Harapan Kita
IHSG Ditutup Melemah Tipis 0,03%, Saham DEFI dan KRYA Melonjak di Atas 34%
Petrosea Lepas 99,995% Saham KMS ke Singaraja Putra Senilai Rp1,73 Triliun
UNTR Setujui Dividen Final Rp1.096 per Saham, Laba 2025 Turun