Di sisi lain, sampah antariksa murni buatan manusia. Ia adalah limbah yang mengorbit Bumi: satelit yang sudah mati, badan roket bekas, atau serpihan dari tabrakan di luar angkasa. Jumlahnya terus bertambah dan jadi ancaman serius, begitu menurut NASA. Nah, ketika sampah ini jatuh kembali ke Bumi dan masuk atmosfer, ia juga akan terbakar dan bercahaya. Makanya, penampakannya sering dikira meteor.
Lalu, Bagaimana Membedakannya?
Karena proses fisik saat masuk atmosfer mirip yaitu pemanasan ekstrem dan ablasi wajar jika keduanya tampak serupa. Tapi, beberapa ciri ini bisa jadi patokan:
Asal-usul: Meteor dari alam, sampah antariksa dari aktivitas manusia.
Kecepatan: Meteor biasanya jauh lebih cepat. Sampah antariksa terlihat lebih lambat dan 'santai'.
Penampakan visual: Meteor sering berupa garis cahaya tipis yang hilang dalam sekejap. Sampah antariksa? Sering terpecah-pecah seperti kembang api dan bertahan lebih lama di pandangan.
Jadi, cahaya misterius di langit Lampung itu adalah pengingat. Di atas kita, selain keindahan alam semesta, ada juga jejak aktivitas manusia yang suatu saat bisa jatuh kembali. Fenomena alam seperti meteor memang memesona, tapi cahaya dari sampah antariksa justru bercerita tentang masalah yang kita ciptakan sendiri di orbit planet ini.
Artikel Terkait
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal
X Patuhi PP TUNAS, Batas Usia Pengguna di Indonesia Naik Jadi 16 Tahun
WhatsApp Permudah Buat Stiker Hampers Lebaran dengan Fitur AI
Resident Evil Requiem Catat Rekor, Terjual 6 Juta Kopi dalam Dua Minggu