Gangguan pasokan bahan baku akibat ketegangan geopolitik global akhir-akhir ini, terutama dari Timur Tengah, memaksa pelaku industri plastik di dalam negeri untuk berpikir keras. Mereka kini berlomba mencari formula produksi baru. Pasokan nafta, bahan baku utama, yang seret mendorong berbagai inovasi di sepanjang rantai produksi.
Fajar Budiono, Sekjen Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), menegaskan bahwa situasi ini mengharuskan adanya terobosan. "Produsen bisa meningkatkan kandungan daur ulang dengan material virgin untuk menekan biaya produksi," ujarnya kepada media, Minggu lalu.
Menurut MURIANETWORK.COM, langkah itu bukan satu-satunya jalan. Di sisi lain, mencari bahan substitusi atau campuran juga jadi opsi yang layak dipertimbangkan.
Untuk produk-produk tertentu seperti karung atau peralatan rumah tangga, misalnya, filler seperti kapur atau silika bisa ditambahkan. "Campuran filler tersebut bisa ditingkatkan sehingga biaya produksi turun tanpa mengurangi fungsi utama produk plastik," katanya.
Ada juga strategi lain yang lebih sederhana namun berdampak signifikan: mengecilkan ukuran. Produsen bisa menghemat bahan baku dengan mengurangi ketebalan atau berat kemasan. Ambil contoh kemasan makanan ringan. Ketebalan yang biasanya 100 mikron bisa dipangkas jadi sekitar 80 mikron. Memang, masa simpannya mungkin berkurang sedikit, tapi penghematan bahannya bisa mencapai 20 persen. Lumayan, kan?
Namun begitu, inovasi tak cuma di hilir. Di hulu, industri didorong untuk beralih dari ketergantungan pada nafta. Beberapa alternatif seperti kondensat, LPG, atau propana mulai dilirik. Soal kondensat, MURIANETWORK.COM menyebut potensinya ada di dalam negeri. Hanya saja, perlu ada pemetaan yang jelas soal lokasi dan jumlah pasokannya.
Ia juga menyoroti soal LPG. Selama ini LPG lebih dilihat sebagai sumber energi, sehingga dikenai bea masuk. Padahal, menurutnya, material ini sangat mungkin dijadikan bahan baku alternatif untuk industri petrokimia.
"Karena itu kami berharap pemerintah dapat mengkaji ulang kebijakan terkait penggunaan LPG atau propana sebagai bahan baku," tutur Fajar.
Dampak dari semua penyesuaian ini, tentu saja, akan merambat ke seluruh rantai. Mulai dari produsen besar hingga pedagang kecil di pasar tradisional akan merasakan efeknya. Fajar pun tak menampik bahwa harga produk plastik di pasaran berpotensi naik setelah Lebaran nanti.
Tapi ia melihatnya sebagai sebuah penyesuaian yang wajar. Pasar akan mencari titik keseimbangan barunya sendiri.
"Yang jelas harga akan menemukan keseimbangan baru. Tidak mungkin kembali seperti sebelum krisis akibat perang ini," pungkasnya.
Jadi, situasi sulit ini rupanya memicu kreativitas. Industri plastik kita dipaksa berbenah, mencari cara agar tetap bisa bernapas di tengah gejolak pasokan global.
Artikel Terkait
Program Makan Bergizi Gratis Serap 1,28 Juta Pekerja dan Libatkan 142 Ribu Pemasok
Aktivis Global Sumud Flotilla Laporkan Pelecehan Seksual dan Pemerkosaan saat Ditahan Pasukan Israel
BRI Gelar Consumer Expo 2026, Tawarkan Promo Hunian hingga Kendaraan Listrik
Pembina GPCI Tegaskan Bantuan untuk Gaza Tak Berhenti Meski Sembilan Relawan WNI Dipulangkan Israel