Lalu, bagaimana hujan terbentuk? Begini. Udara yang naik itu seringkali membawa uap air. Saat mencapai ketinggian, udara tersebut mendingin. Uap air lalu mengembun membentuk awan. Jika proses ini terus berlanjut, butiran air jadi makin berat dan akhirnya… turunlah hujan. Yang menarik, hujan belum tentu jatuh di tempat yang sama dengan sumber panasnya. Awan bisa terbawa angin jauh, sehingga curahan hujan bisa terjadi di wilayah yang sama sekali berbeda.
Jadi, kalau dirunut, Matahari adalah bahan bakar utama dari seluruh sistem cuaca kita. Rantainya kira-kira seperti ini: pemanasan dari Matahari memicu perbedaan suhu, lalu perbedaan tekanan, yang melahirkan angin. Angin dan udara naik membantu pembentukan awan, dan akhirnya turun hujan.
Bayangkan jika tidak ada perbedaan tekanan. Udara akan diam saja. Angin pun takkan berhembus, dan siklus air terhenti. Atmosfer kita hanya akan menjadi lapisan gas yang statis dan membosankan tanpa awan, tanpa angin, tanpa perubahan cuaca apa pun.
Artikel Terkait
Rahasia di Balik Pose Satu Kaki Flamingo: Bukan Gaya, Tapi Strategi Bertahan Hidup
Sisa Kuota Simpati Tak Lagi Hangus, Bisa Ditabung untuk Bulan Depan
Bulan di Ambang Ledakan: Antara Risiko Bencana dan Anugerah Ilmiah
Apple Gandeng Google, Siri Baru Bakal Pakai Mesin Cerdas Gemini