Kita sering melihat cuaca cuma sebagai soal hujan atau terik matahari. Padahal, di balik semua itu, ada sebuah sistem raksasa yang terus bekerja. Bayangkan sebuah mesin tak terlihat, digerakkan oleh energi Matahari dan didorong oleh ketidakseimbangan tekanan udara. Dari sanalah angin berhembus, awan menggumpal, dan hujan akhirnya tiba di tanah. Jadi, cuaca itu bukan kejadian acak. Ia adalah hasil dari mekanisme fisik yang sangat teratur, bahkan bisa dibilang, elegan.
Semuanya berawal dari sang surya. Saat sinar Matahari menyinari suatu daerah, permukaan tanah dan udara di atasnya mulai memanas. Udara yang panas itu mengembang, jadi lebih ringan, lalu naik ke atas. Akibatnya, tekanan di dekat permukaan pun turun. Nah, di tempat lain yang kurang mendapat panas, udaranya tetap lebih dingin dan padat. Tekanannya pun lebih tinggi.
Pemanasan bikin perbedaan suhu. Perbedaan suhu itu, pada gilirannya, menciptakan perbedaan tekanan.
Dan perbedaan tekanan inilah sang penggerak utama. Udara dari zona bertekanan tinggi langsung mengalir ke zona bertekanan rendah inilah yang kita rasakan sebagai angin. Tapi gerakannya nggak cuma horizontal. Di area tekanan rendah, udara dari sekitarnya berkumpul dan terdorong naik. Sebaliknya, di zona tekanan tinggi, udara justru turun dan menyebar.
Artikel Terkait
Rahasia di Balik Pose Satu Kaki Flamingo: Bukan Gaya, Tapi Strategi Bertahan Hidup
Sisa Kuota Simpati Tak Lagi Hangus, Bisa Ditabung untuk Bulan Depan
Bulan di Ambang Ledakan: Antara Risiko Bencana dan Anugerah Ilmiah
Apple Gandeng Google, Siri Baru Bakal Pakai Mesin Cerdas Gemini