Di Balik Suara Misterius Gunung Jawa Barat: Kisah Burung Kedasih yang Tak Pernah Terlihat

- Kamis, 22 Januari 2026 | 23:06 WIB
Di Balik Suara Misterius Gunung Jawa Barat: Kisah Burung Kedasih yang Tak Pernah Terlihat

Mendaki gunung itu tak cuma soal pemandangan atau udara segar. Ada satu hal yang selalu saya cari: suara burung. Sering kali kita terlalu fokus pada apa yang dilihat, padahal lapisan pengalaman lain tersembunyi di balik bunyi-bunyi itu. Ia adalah penanda bahwa hutan masih hidup dan bekerja dengan caranya sendiri.

Karena itu, saya kerap berhenti. Mengurangi langkah, lalu diam. Membiarkan telinga menyesuaikan diri dengan segala keriuhan yang datang dari balik pepohonan. Dari situlah, kita bisa mengenali keberadaan mereka tanpa perlu melihat wujudnya secara langsung.

Pengalaman ini berulang di berbagai hutan pegunungan Jawa Barat. Di Pangrango, kicauan terdengar rapat sejak pagi, menyatu dengan kabut yang turun perlahan. Sementara di Papandayan, suara-suara itu justru muncul dari balik hutan mati dan semak belukar yang terbuka. Salak menghadirkan gema yang dalam, memantul di lembah-lembah curam. Lain lagi dengan Tangkuban Perahu, di sana suara burung bercampur dengan desir angin dan langkah pengunjung yang tak pernah benar-benar sepi.

Perbedaan ketinggian di Ciremai memberikan variasi suara yang jelas terasa. Cikuray justru lebih sunyi, tapi suara burung yang muncul sesekali terdengar begitu tajam. Di Guntur dan Malabar, kicauan lebih sering terdengar dari sekitar kebun, hutan pinus, dan lahan campuran. Nah, soal Malabar ini menarik. Dari pengamatan dan catatan saya, keragaman suara burung di sana terasa paling kaya, dan layak untuk diceritakan secara khusus.

Pola serupa juga terlihat di Sanggara, Wayang, Burangrang, Manglayang, hingga Patuha. Burung adalah bagian tak terpisahkan dari lanskap suara mereka. Tapi dari semua gunung itu, ada satu suara yang hampir selalu hadir, menemani langkah pendaki: suara burung kedasih.

Burung ini dikenal luas di tanah Sunda dengan sebutan sirit uncuing. Pelafalannya bisa berbeda-beda di tiap daerah; ada yang bilang sit uncuing, siit uncuing, atau sit incuing. Orang Jawa menyebutnya darasih atau emprit ganthil.

Dalam bahasa Inggris, ia punya nama yang puitis: plaintive cuckoo atau rusty-breasted cuckoo, yang merujuk pada suaranya yang mendayu dan warna dadanya. Ragam penamaan ini sendiri sudah menunjukkan betapa dekatnya burung ini dengan kehidupan masyarakat.

Secara ilmiah, namanya Cacomantis merulinus, dari famili Cuculidae. Keluarga burung kangkok atau cuckoo ini tersebar luas di daerah tropis. Di Indonesia, khususnya di Jawa dan Bali, hidup subspesies Cacomantis merulinus lanceolatus.

Dari segi fisik, burung kedasih tergolong kecil, panjangnya sekitar 20-24 cm. Burung jantan kepalanya abu-abu, punggung cokelat keabu-abuan, dengan perut berwarna jingga atau merah sawo matang. Si betina warnanya lebih kusam, cokelat kemerahan. Tubuhnya ramping, paruh runcing, cocok untuk bergerak cepat di balik rimbunnya daun.

Dan itu pula sebabnya, burung ini lebih sering terdengar ketimbang terlihat. Dia gemar bertengger di balik tajuk yang rapat dan jarang berpindah saat bersuara. Seringkali, suaranya terdengar seolah datang dari udara kosong, menambah kesan misterius.

Ciri khasnya ya suara itu. Panjang, melengking, naik turun perlahan. Pola bunyi berulang “tiit tu wiiit” seperti ratapan yang tertahan.

Menurut Prof. Ani Mardiastuti dari IPB University, suara tersebut merupakan panggilan kawin burung jantan. Fungsinya untuk menandai wilayah sekaligus menarik perhatian betina. Dalam dunia burung, strategi seperti ini hal yang wajar.

Cara berkembang biaknya pun unik. Burung kedasih tidak membangun sarang sendiri. Dia adalah parasit sarang.

Telurnya diletakkan di sarang burung lain yang lebih kecil, seperti cinenen atau perenjak. Telur kedasih mirip bentuk dan warnanya dengan telur inang, sehingga sulit dikenali. Begitu menetas, piyik kedasih punya insting untuk menyingkirkan telur atau anak burung lain dari sarang. Alhasil, si induk inang tanpa sadar membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri.

Dari sisi makanan, kedasih adalah pemakan serangga. Menu hariannya ulat, belalang, laba-laba, bahkan kadal kecil.

Dr. Yeni Aryani Mulyani, juga dari IPB, menyebut peran ekologis burung ini penting. Di lanskap pertanian, kehadirannya bisa membantu mengendalikan populasi hama secara alami. Sayangnya, peran ini sering tak disadari.

Status konservasinya saat ini masih aman. IUCN mendaftarkannya dalam kategori Least Concern. Populasinya di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, terbilang stabil. Tapi tentu saja, ancaman seperti alih fungsi lahan dan kerusakan habitat tetap mengintai perlahan-lahan.

Di luar fakta ilmiah, burung ini hidup kuat dalam mitos masyarakat Jawa Barat. Salah satunya, burung ini dianggap jelmaan seorang lelaki yang patah hati karena kekasihnya direbut anak raja. Kisah ini bahkan tercatat dalam naskah Sunda lama, Ki Santri Gagal.

Suaranya yang melengking lalu dipahami sebagai panggilan kesedihan yang tak pernah usai.

Ada juga mitos yang menyebutnya sebagai hantu perempuan yang meninggal sebelum menikah. Istilah “siit” sendiri tercatat dalam kamus bahasa Sunda. Mitos lain mengaitkan suaranya dengan kabar kematian, terutama jika terdengar dekat permukiman. Bahkan di siang hari bolong, suaranya dikatakan bisa membuat bulu kuduk merinding. Dan yang paling konsisten: dia bersuara tanpa pernah menampakkan diri, seperti makhluk tak kasatmata.

Pada akhirnya, burung kedasih berdiri di persimpangan yang menarik. Dia adalah makhluk biologis dengan peran ekologis yang nyata, sekaligus simbol kultural yang hidup dalam imajinasi masyarakat. Suara yang sama bisa dimaknai secara ilmiah dan mitologis, tanpa harus saling menafikan.

Dan di hutan-hutan Jawa Barat, suara itu terus terdengar. Menjadi bagian dari napas panjang alam pegunungan yang tak pernah benar-benar diam.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar