Nyamuk itu makhluk yang rakus. Mereka bisa menghisap nektar bunga, tapi juga tak segan mengincar darah entah itu darah ayam, tikus, bahkan buaya dan katak. Tapi manusia? Rupanya kita punya daya tarik khusus. Sebuah studi terbaru mengungkap, begitu manusia masuk ke kawasan liar, nyamuk-nyamuk itu seolah melupakan menu lainnya dan fokus mengincar kita.
Kesimpulan itu didapat setelah tim peneliti di Brasil meneliti 145 sampel nyamuk betina dari sebuah cagar alam di Hutan Atlantik. Kawasan itu sendiri sudah sangat terkikis oleh deforestasi. Yang menarik, beberapa spesies nyamuk yang diteliti menunjukkan ketertarikan yang sangat kuat pada manusia.
Jeronimo Alencar, ahli biologi dari Institut Oswaldo Cruz yang terlibat dalam studi ini, menyebutnya dengan jelas: ada "preferensi yang jelas untuk menghisap darah manusia."
Studi yang terbit di jurnal Frontiers in Ecology and Evolution pada pertengahan Januari 2026 ini sebenarnya mengonfirmasi apa yang sudah lama diduga. Penggundulan hutan mempertemukan manusia dan nyamuk lebih sering. Dan itu berbahaya. Nyamuk bukan sekadar pengganggu, mereka pembawa maut Zika, demam berdarah, malaria, ensefalitis. Semuanya bisa berakibat fatal.
Ironisnya, Hutan Atlantik adalah rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Bayangkan, ada sekitar 270 spesies mamalia, 850 jenis burung, plus ratusan reptil dan amfibi hidup di dalamnya. Dulu, hutan ini membentang luas sekali, lebih besar dari gabungan Texas dan California. Sekarang? Luasnya tinggal kurang dari sepertiga. Lahan pertanian dan permukiman terus menggerus.
Nah, di sinilah hubungan kompleks itu terlihat. Penelitian ini membantu kita memahami kaitan antara hilangnya hutan dan munculnya penyakit. Setiap tahun, manusia menghilangkan sekitar 10 juta hektar hutan. Akibatnya, keanekaragaman hayati lokal pun merosot.
Para penulis studi menegaskan, "Deforestasi mengurangi keanekaragaman hayati lokal, menyebabkan nyamuk, termasuk vektor agen patogen, menyebar dan mencari sumber makanan alternatif."
Dan sumber makanan alternatif itu, tak lain dan tak bukan, adalah kita. Manusia. Jadi, pada akhirnya, sumber masalah penyakit itu mungkin kembali ke diri kita sendiri.
Artikel Terkait
YouTube Batasi Akses Pengguna di Bawah 16 Tahun di Indonesia Patuhi PP Tunas
Peneliti Temukan Spesies Baru Laba-laba Hantu di Habitat Bambu Jawa
OAIL Konfirmasi Cahaya Misterius di Lampung Bukan Meteor, Melainkan Sampah Antariksa
Iran Buka Front Siber, Serangan Psikologis dan Spyware Gantikan Rudal