Ironisnya, Hutan Atlantik adalah rumah bagi keanekaragaman hayati yang luar biasa. Bayangkan, ada sekitar 270 spesies mamalia, 850 jenis burung, plus ratusan reptil dan amfibi hidup di dalamnya. Dulu, hutan ini membentang luas sekali, lebih besar dari gabungan Texas dan California. Sekarang? Luasnya tinggal kurang dari sepertiga. Lahan pertanian dan permukiman terus menggerus.
Nah, di sinilah hubungan kompleks itu terlihat. Penelitian ini membantu kita memahami kaitan antara hilangnya hutan dan munculnya penyakit. Setiap tahun, manusia menghilangkan sekitar 10 juta hektar hutan. Akibatnya, keanekaragaman hayati lokal pun merosot.
Para penulis studi menegaskan, "Deforestasi mengurangi keanekaragaman hayati lokal, menyebabkan nyamuk, termasuk vektor agen patogen, menyebar dan mencari sumber makanan alternatif."
Dan sumber makanan alternatif itu, tak lain dan tak bukan, adalah kita. Manusia. Jadi, pada akhirnya, sumber masalah penyakit itu mungkin kembali ke diri kita sendiri.
Artikel Terkait
Simpanse Jenius Ai, Penghuni Laboratorium Kyoto University, Tutup Usia
Sahur Jadi Prime Time Baru di Era Digital, Trafik Internet Melonjak 90%
Redmi Note 15 Siap Hadapi Tantangan Ekstrem, Tahan Air 24 Jam dan Baterai 6 Tahun
Spirulina: Sumber Protein Masa Depan yang Tumbuh Subur di Bumi Tropis