Trump Cabut AS dari 66 Lembaga Internasional, Tinggalkan Dunia Sendirian Hadapi Krisis Iklim

- Senin, 12 Januari 2026 | 08:12 WIB
Trump Cabut AS dari 66 Lembaga Internasional, Tinggalkan Dunia Sendirian Hadapi Krisis Iklim

Donald Trump kembali membuat langkah kontroversial. Presiden Amerika Serikat itu baru saja menandatangani perintah eksekutif yang isinya mencabut keanggotaan AS dari puluhan organisasi internasional. Tak tanggung-tanggung, jumlahnya mencapai 66 lembaga. Di antara nama-nama yang tercoret adalah panel iklim PBB (IPCC), Komisi Hukum Internasional, dan Forum Kontraterorisme Global.

Akibatnya, posisi Amerika Serikat jadi unik dan mungkin menyendiri. Mereka akan menjadi satu-satunya negara di dunia yang tidak ikut serta dalam IPCC maupun Konvensi Kerangka Kerja PBB untuk Perubahan Iklim (UNFCCC).

Namun begitu, langkah ini bukannya tanpa masalah hukum. Memang, presiden punya wewenang untuk mengikat AS pada perjanjian internasional. Tapi soal menarik diri secara sepihak? Itu masih wilayah abu-abu. Artinya, sangat mungkin pemerintahan Trump akan berhadapan dengan gugatan di pengadilan nanti.

Alasannya klasik: lembaga-lembaga itu dianggap tak sejalan dengan kepentingan nasional. Dengan dalih itu pula, AS mundur dari sejumlah forum dan badan dunia lainnya. Beberapa di antaranya termasuk platform kebijakan sains untuk keanekaragaman hayati (IPBES), badan konservasi alam internasional (IUCN), forum pertambangan berkelanjutan, hingga komisi perdamaian PBB. Bahkan dana demokrasi PBB dan lembaga pemberdayaan perempuan pun ikut ditinggalkan. Geger, tentu saja. Kritik pun mengalir deras dari para ilmuwan dan pengamat kebijakan.

Padahal, periode kedua Trump belum genap setahun. Tapi sejak hari pertama, serangkaian kebijakan yang dianggap memusuhi sains sudah diluncurkan lewat perintah eksekutif. Kita ingat AS mundur dari Perjanjian Paris, lalu dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan terakhir dari Dewan HAM PBB.

Tekanan terhadap dunia sains makin menjadi. Dana untuk lembaga pemerintah dibekukan, anggaran dipangkas besar-besaran, begitu pula dengan tenaga kerjanya. Semua ini dijalankan melalui Departemen Efisiensi Pemerintah yang dipimpin Elon Musk. Dampaknya terasa di badan-badan seperti NASA dan NOAA, serta berbagai organisasi kesehatan.

Akibatnya? Menurut perkiraan para ahli, pemotongan anggaran untuk badan bantuan AS (USAID) saja telah menyebabkan sekitar 600.000 kematian. Dan 400.000 di antaranya adalah anak-anak.

Yang mengkhawatirkan, perintah eksekutif terbaru ini muncul di saat yang genting. Dunia sedang berjuang mati-matian menghadapi krisis iklim dan berusaha membangun ketahanan. Data dari Climate Central menunjukkan betapa mahalnya ongkos yang sudah ditanggung: bencana iklim dan cuaca ekstrem menghabiskan biaya USD 115 miliar di AS sepanjang 2025. Angka itu setara dengan satu bencana senilai satu miliar dolar setiap sepuluh hari.


Halaman:

Komentar