Bayangkan, dalam sepuluh tahun terakhir, lebih dari 190 bencana dengan kerugian miliaran dolar telah terjadi di sana. Sekitar 6.500 orang tewas. Meski datanya segitu nyata, pemerintah AS tetap membela keputusannya.
Pernyataan Rubio langsung dibantah. David Widawsky dari World Resources Institute menilai mundur dari UNFCCC adalah blunder strategis yang besar.
Dia menambahkan, komunitas dan pelaku usaha di AS berisiko kehilangan peluang ekonomi. Sementara negara lain justru akan merebut lapangan kerja dan perdagangan dari ekonomi energi bersih yang sedang melejit.
Pendapat serupa datang dari Dr. Delta Merner dari UCS. Ia menegaskan, keputusan ini membuat publik dan dunia usaha berjalan dalam kegelapan, tanpa panduan ilmiah yang bisa diandalkan.
Jika penarikan diri ini benar-benar terjadi, konsekuensinya bisa panjang. Presiden AS di masa depan mungkin akan kesulitan jika ingin kembali bergabung dengan perjanjian seperti Perjanjian Paris, karena perjanjian itu berada di bawah payung UNFCCC.
Prosesnya pun tidak instan. Ambil contoh mundur dari WHO: penarikan resminya baru akan berlaku efektif pada 22 Januari 2026, atau setahun setelah perintah dikeluarkan.
Satu hal yang pasti, langkah Trump ini akan terus memicu perdebatan sengit. Tarik-ulur antara kepentingan nasional, suara sains, dan masa depan kerja sama global dalam menghadapi krisis iklim, masih akan berlanjut.
Artikel Terkait
Gmail Gratis Kini Dapatkan Otak AI, Fitur Premium Dibuka untuk Semua
Ofcom Selidiki Grok AI Diduga Hasilkan Deepfake Mesum Kate Middleton
Tikus Astronaut China Lahirkan Sembilan Anak Usai Misi Dua Pekan di Luar Angkasa
Telkomsel Bergerak Cepat: Pulihkan Sinyal dan Bantu Korban Pascabencana Sumatera