Di tengah upaya keras Rusia menyebarkan agama Kristen, praktik shamanisme ternyata bertahan hingga akhir abad ke-18. Bukti paling dramatis datang dari seorang shaman perempuan.
Dia meninggal lebih dari 250 tahun lalu, sekitar usia 30-an. Jasadnya ditemukan di situs Us Sergue, Yakutia tengah, dan oleh peneliti dijuluki UsSergue1. Wanita ini dimakamkan dengan penuh penghormatan: dalam peti dari batang pohon, mengenakan topi tradisional, pelindung kaki dari kulit, dan sebuah gaun wol merah mencolok yang dibuat dari selimut impor.
Tak jauh dari makamnya, sebuah lubang berisi tiga kerangka kuda. Salah satunya memiliki aksesori dengan motif yang serasi dengan gaun merah sang shaman. Detail-detail ini bukan sekadar hiasan.
“Kami menafsirkan UsSergue1 sebagai perwujudan klannya,” kata Ludovic Orlando, ahli genetika molekuler dari CNRS Prancis. “Ia menjadi simbol upaya mempertahankan tradisi spiritual mereka.”
Namun, analisis DNA membawa kejutan lain. Ternyata, orang tua UsSergue1 adalah kerabat dekat tingkat kedua. Mereka bisa jadi saudara tiri, paman dan keponakan, atau hubungan keluarga dekat lainnya. Ini menjadikannya individu dengan tingkat perkawinan sedarah tertinggi dalam sampel penelitian. Dia berasal dari klan berpengaruh dan diduga adalah shaman terakhir dari garis keturunannya.
Meski begitu, para peneliti buru-buru menegaskan. Menjadi shaman tidak mensyaratkan perkawinan sedarah. Buktinya, makam shaman lain yang diteliti tidak menunjukkan pola genetik serupa.
Kondisi Siberia yang membeku telah mengawetkan semua ini dengan nyaris sempurna. Pakaian, perhiasan, bahkan kondisi jasad memungkinkan penelitian mendetail.
“Pelestarian di lingkungan ini tidak tertandingi,” ujar Éric Crubézy, antropolog biologis dari CNRS. “Jasadnya begitu utuh hingga kami bisa melakukan autopsi. Bahkan pakaian dan perhiasan mereka tetap terjaga, memberi kesempatan langka untuk membandingkan data biologis dan budaya secara bersamaan.”
Pada akhirnya, kuburan-kuburan beku ini lebih dari sekadar kumpulan data genetik. Mereka adalah saksi bisu dari sebuah perlawanan budaya yang halus namun gigih, bertahan berabad-abad di salah tempat paling tak bersahabat di bumi.
Artikel Terkait
Tikus Astronaut China Lahirkan Sembilan Anak Usai Misi Dua Pekan di Luar Angkasa
Telkomsel Bergerak Cepat: Pulihkan Sinyal dan Bantu Korban Pascabencana Sumatera
Henti Jantung Bisa Terjadi di Mana Saja, Tindakan Anda Bisa Jadi Penyelamat
Oppo Reno 15 Rilis dengan Desain Aurora yang Menari di Bawah Cahaya