Trump Tiba di Beijing untuk Pertemuan dengan Xi di Tengah Ketegangan Iran dan Perdagangan

- Rabu, 13 Mei 2026 | 09:31 WIB
Trump Tiba di Beijing untuk Pertemuan dengan Xi di Tengah Ketegangan Iran dan Perdagangan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, meninggalkan Gedung Putih pada Selasa (12/5/2026) untuk memulai kunjungan kenegaraan ke Tiongkok, sebuah perjalanan yang dijadwalkan akan diisi dengan pembicaraan langsung bersama Presiden Xi Jinping. Kunjungan yang berlangsung selama tiga hari, dari 13 hingga 15 Mei ini, digelar di tengah meningkatnya ketegangan akibat perang AS-Israel di Iran, kekhawatiran terhadap pasar minyak global, serta hubungan perdagangan yang rapuh antara dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

Perjalanan ini dipandang sebagai momen krusial dalam dinamika hubungan bilateral AS-Tiongkok, khususnya di tengah persaingan geopolitik yang kian tajam, pergeseran rantai pasokan global, dan eskalasi ketegangan di kawasan Indo-Pasifik. Trump sempat memberikan keterangan kepada awak media sebelum menaiki helikopter Marine One menuju Beijing. Ia diperkirakan tiba di Tiongkok menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One pada Rabu, mendahului rangkaian pertemuan dengan Xi Jinping yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis dan Jumat.

Pertemuan ini menjadi tatap muka pertama bagi kedua pemimpin sejak Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC di Busan, Korea Selatan, pada Oktober 2025. Lebih dari itu, kunjungan ini merupakan perjalanan perdana Trump ke Tiongkok sejak ia resmi menjabat kembali sebagai Presiden AS untuk periode kedua pada 20 Januari 2025. Meskipun sejumlah pejabat AS berupaya meredam isu konflik Iran dalam agenda kunjungan, Trump justru memberikan sinyal yang beragam mengenai sejauh mana topik tersebut akan dibahas bersama Xi Jinping.

“Kami akan membicarakannya cukup lama. Sejujurnya, saya pikir dia sudah bersikap cukup baik,” ujar Trump saat ditanya mengenai potensi diskusi terkait konflik Iran dan dampaknya terhadap pasar minyak global. Namun, beberapa menit kemudian, ia tampak mengecilkan urgensi isu tersebut. “Banyak hal yang harus kami diskusikan. Sejujurnya saya tidak akan mengatakan Iran adalah salah satunya, karena kami sudah mengendalikan situasi di Iran dengan sangat baik,” ucapnya. “Saya rasa kita tidak butuh bantuan apa pun terkait Iran. Kita akan memenangkannya, baik dengan cara damai atau cara lainnya,” tambah Trump.

Pernyataan tersebut muncul di tengah tekanan dari pejabat senior AS, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent, yang mendesak Beijing untuk menggunakan pengaruhnya demi membantu pembukaan kembali Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan rute bagi seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang pecah. Pemerintah Tiongkok secara terbuka menentang konflik tersebut dan dilaporkan telah mendesak semua pihak untuk menahan diri di balik layar, sembari menghindari keterlibatan langsung secara militer.

Sementara itu, isu perdagangan dan ekonomi diprediksi akan mendominasi agenda pertemuan puncak ini. Kedua belah pihak berupaya mencegah terjadinya perang tarif baru menyusul gencatan senjata perdagangan yang dicapai pada Oktober tahun lalu. Dalam kunjungan ini, Trump didampingi sejumlah pemimpin bisnis papan atas AS, termasuk Elon Musk dan Tim Cook, seiring upaya pemerintahannya mendorong kesepakatan bisnis baru dengan Beijing. Tiongkok juga diperkirakan akan mengumumkan pembelian pesawat Boeing, produk pertanian Amerika, serta pasokan energi dalam pertemuan tersebut.

Sumber industri menyebutkan bahwa pihak Boeing dan pejabat Tiongkok sedang merundingkan potensi pesanan sekitar 500 unit jet Boeing 737 MAX dan puluhan pesawat berbadan lebar bermesin GE. Jika terealisasi, ini akan menjadi pesanan besar pertama Tiongkok untuk Boeing sejak 2017 sekaligus berpotensi menjadi kesepakatan pesawat terbesar dalam sejarah penerbangan. CEO Boeing, Kelly Ortberg, menyatakan optimismenya bahwa pemerintahan Trump dapat membantu mengamankan pesanan yang telah lama dinantikan dari Tiongkok tersebut.

Kedua belah pihak juga diharapkan membahas perpanjangan kesepakatan perdagangan yang saat ini mengizinkan aliran mineral tanah jarang dari Tiongkok ke AS, meskipun belum dipastikan apakah kesepakatan tersebut akan disetujui dalam kunjungan ini. Di sisi lain, Ibu Negara Melania Trump tidak ikut mendampingi Donald Trump dalam kunjungan tiga hari ke Tiongkok kali ini. Absennya Melania menunjukkan kontras yang jelas dibandingkan dengan peran publik yang ia mainkan saat kunjungan ke Beijing pada tahun 2017 silam.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar