Polisi Sediakan Rute Alternatif Aman untuk Atasi Pemotor Lawan Arus di Cengkareng

- Selasa, 12 Mei 2026 | 23:30 WIB
Polisi Sediakan Rute Alternatif Aman untuk Atasi Pemotor Lawan Arus di Cengkareng

Fenomena pengendara sepeda motor yang nekat melawan arus di Jalan Outer Ring Road, Cengkareng, Jakarta Barat, akhirnya mendapat solusi dari kepolisian setempat. Polisi Lalu Lintas Sektor Cengkareng mengungkapkan adanya rute alternatif yang lebih aman bagi pemotor dari arah Jalan Kamal Raya, Tegal Alur, tanpa harus mempertaruhkan keselamatan demi mempersingkat waktu.

Selama ini, banyak pemotor memilih mengambil jalan pintas berbahaya dengan melawan arus sejauh kurang lebih 200 meter. Tujuannya hanya satu: mencapai area putaran balik pintu air Cengkareng di depan Ruko 1000, Kompleks Perumahan KFT. Kebiasaan ini marak karena para pengendara enggan memutar di jalur resmi yang berada di kawasan Jalan Syeikh Junaid Al Batawi, dekat pintu masuk tol Bandara Soetta, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer.

Kanit Lantas Polsek Cengkareng, AKP Yeni, menegaskan bahwa sebenarnya ada opsi lain yang bisa ditempuh tanpa harus melanggar aturan. "Sebenarnya bisa mereka masuk lewat dalam melalui jalan di sebelah SMPN 108 melalui perumahan KFT, nanti tembus keluar di Ruko 1000, bisa putar balik tanpa harus lawan arah," jelas Yeni saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Selasa (12/5/2026).

Namun, diakui Yeni, banyak pemotor yang kurang disiplin dan lebih memilih menghemat waktu meski harus mempertaruhkan nyawa. "Memang karena kurangnya kesadaran dan disiplin pengendara dalam berlalu lintas, sebagian pengendara sengaja melawan arus karena ingin mempersingkat waktu tanpa memikirkan risiko keselamatan," katanya.

Yeni menyayangkan rendahnya tingkat kedisiplinan dan kesadaran pengendara akan keselamatan berlalu lintas. Ia mengungkapkan bahwa petugas kepolisian sudah sering berjaga di lokasi, tetapi masyarakat tetap mencuri kesempatan saat polisi sedang berpatroli atau berjaga di titik lain. "Kami selalu jaga di sana, tapi seperti kucing-kucingan dengan petugas. Saat dijaga petugas enggak ada yang berani (melawan arus). Tapi kami kan harus berjaga di titik lain juga, tidak bisa selalu di satu titik saja," ucapnya.

Sementara itu, di sisi lain, pengendara yang kerap melawan arus mengaku tidak mengetahui keberadaan rute alternatif tersebut. Alshad (25), seorang pengguna jalan, mengaku minimnya rambu petunjuk membuatnya terjebak dalam pilihan sulit antara membuang waktu memutar sangat jauh atau mengambil risiko melawan arah. "Kadang tuh malas karena emang ya jauh aja gitu. Jujur enggak tahu juga (ada rute alternatif), tahunya ya antara lawan arus apa muternya jauh gitu. Karena bukan orang asli sini tapi sering lewat sini. Apalagi itu lewat dalam-dalam kan, kita enggak ngerti," ungkap Alshad.

Ia menambahkan, jika memutar lewat jalur resmi di Kayu Besar pada jam sibuk, dirinya bisa menghabiskan waktu hingga lebih dari 15 menit akibat terjebak kemacetan. Kondisi ini menunjukkan bahwa selain faktor disiplin, kurangnya sosialisasi dan penunjuk jalan juga turut mendorong pelanggaran lalu lintas yang membahayakan tersebut.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar