Kampung Literasi Pekijing di Serang Diapresiasi Kemendikdasmen sebagai Model Penguatan Budaya Baca Berbasis Komunitas

- Rabu, 13 Mei 2026 | 13:46 WIB
Kampung Literasi Pekijing di Serang Diapresiasi Kemendikdasmen sebagai Model Penguatan Budaya Baca Berbasis Komunitas

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan apresiasi terhadap inisiatif Kampung Literasi Pekijing di Kota Serang, Banten, yang dinilai berhasil memperkuat budaya literasi masyarakat melalui pendekatan berbasis komunitas dan keluarga.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kemendikdasmen, Hafidz Muksin, menegaskan bahwa upaya peningkatan literasi tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi aktif dari masyarakat, komunitas, dan keluarga untuk mewujudkannya. Dalam pernyataan tertulisnya pada Rabu, ia menyoroti peran strategis taman bacaan masyarakat sebagai mitra pemerintah dalam membangun kebiasaan membaca di lingkungan sekitar.

“Kami melihat Kampung Literasi Pekijing menunjukkan bagaimana masyarakat dapat membangun ekosistem literasi yang hidup dan menyenangkan. Anak-anak, orang tua, dan komunitas hadir bersama dalam berbagai aktivitas yang mendorong budaya membaca dan kreativitas di lingkungannya,” ujar Hafidz.

Di kampung tersebut, sejumlah rumah kotak kecil berisi buku bacaan didirikan di halaman rumah warga. Fasilitas itu dapat diakses oleh siapa saja tanpa persyaratan yang mengikat. Kehadiran sudut-sudut baca sederhana ini membuat buku menjadi lebih dekat dengan keseharian masyarakat.

Menurut Hafidz, praktik baik yang diterapkan di Kampung Literasi Pekijing dapat menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk menghadirkan ruang literasi yang dekat, terbuka, dan ramah bagi warga. Pihaknya memberikan perhatian dan dukungan terhadap komunitas literasi semacam ini karena keberadaannya menjadi bagian penting dalam penguatan budaya baca.

“Kehadiran komunitas literasi berupa taman bacaan masyarakat dan perpustakaan desa di Pekijing dapat menjadi contoh sekaligus penggerak budaya baca di lingkungan sekitar,” kata Hafidz.

Di Kampung Literasi Pekijing, literasi tidak hanya tumbuh melalui kegiatan membaca buku, tetapi juga melalui interaksi sosial yang melibatkan seluruh kelompok usia. Anak-anak mengikuti kegiatan mendongeng, membaca bersama, bermain permainan tradisional, hingga berlatih seni dan musik. Sementara itu, para lansia turut dilibatkan dalam kegiatan melukis, mewarnai, dan membuat kerajinan tangan.

Pembina Kampung Literasi Pekijing, Edi Suryadi, menceritakan bahwa penyediaan buku di rumah-rumah warga awalnya sempat diragukan efektivitasnya. Namun, pendekatan yang sederhana justru membuat masyarakat merasa lebih dekat dengan buku.

“Ketika buku-buku ditempatkan di depan rumah dan mudah diakses serta judulnya menarik, maka masyarakat mulai berani memegang dan membaca buku. Dari situ kami menyadari bahwa masyarakat sebenarnya membutuhkan bahan bacaan yang dekat dengan kehidupan mereka,” ujarnya.

Berangkat dari pengalaman tersebut, warga secara mandiri mengembangkan penyediaan bahan bacaan dengan membangun rumah-rumah buku di pinggir jalan kampung. Fasilitas itu dapat dimanfaatkan oleh masyarakat maupun pengunjung yang datang.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar