Makanan dan minuman manis memang sulit ditolak, terutama oleh anak muda. Namun di balik kenikmatannya, konsumsi gula berlebih menyimpan risiko kesehatan yang serius. Tubuh memperoleh gula dari makanan sehari-hari; jika jumlahnya melampaui batas, kelebihan gula akan disimpan sebagai cadangan kalori dan perlahan berubah menjadi lemak.
Berikut adalah lima dampak utama konsumsi gula berlebihan bagi kesehatan, sebagaimana dirangkum dari laman Ayo Sehat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Diabetes Melitus Tipe 2
Konsumsi gula berlebih meningkatkan kadar gula darah. Kondisi ini membebani kerja insulin dan memicu resistensi insulin. Jika berlangsung lama, risiko diabetes melitus tipe 2 pun meningkat.
Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)
Gula yang masuk tubuh dipecah menjadi glukosa dan fruktosa. Fruktosa yang berlebihan dapat menumpuk di hati, menyebabkan penyakit hati berlemak nonalkohol atau NAFLD.
Gigi Berlubang
Sisa makanan manis dan karbohidrat di mulut diolah bakteri menjadi asam. Asam ini mengikis lapisan enamel gigi, meningkatkan risiko gigi berlubang atau karies.
Obesitas
Kelebihan gula yang disimpan sebagai lemak menyebabkan kenaikan berat badan. Selain itu, gula berlebih mengganggu sinyal rasa kenyang di otak, membuat seseorang terus merasa lapar dan makan lebih banyak, sehingga berujung pada obesitas.
Penyakit Jantung
Konsumsi gula berlebihan meningkatkan kadar trigliserida, tekanan darah, dan memicu peradangan kronis. Semua faktor ini berkontribusi pada risiko penyakit jantung, terutama jika disertai kelebihan berat badan atau obesitas.
Mengonsumsi makanan atau minuman manis sesekali tidaklah masalah. Namun, menjaga asupan gula sesuai kebutuhan harian adalah langkah penting untuk mencegah penyakit kronis dan menjaga kesehatan jangka panjang.
Artikel Terkait
COO Danantara Minta KPK Awasi Proyek Hilirisasi Cegah Korupsi
Menteri Imipas Ungkap 1.464 Kasus TBC di Lapas dan Rutan, Over Kapasitas Jadi Biang Kerok
PDIP Tak Ributkan Jokowi Injak Kepala Kerbau: Itu Bukan Lambang Kami
Cuaca Panas Landa Indonesia, BMKG Tegaskan Bukan Gelombang Panas