Industri Keramik Sambut Penurunan Harga LNG dan Tambahan Alokasi Gas Murah

- Senin, 29 Juni 2026 | 18:18 WIB
Industri Keramik Sambut Penurunan Harga LNG dan Tambahan Alokasi Gas Murah

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) menyambut positif kebijakan pemerintah yang menurunkan harga regasifikasi LNG menjadi USD 13 per MMBtu dan meningkatkan alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi 50 persen. Langkah ini dinilai menjadi angin segar bagi industri keramik nasional yang selama ini tertekan oleh tingginya biaya energi.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, mengatakan kebijakan tersebut memberikan kepastian bagi dunia usaha di tengah tantangan industri yang cukup berat dalam beberapa tahun terakhir. "Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah atas perhatian dan langkah cepat yang telah diambil. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," kata Edy dalam keterangan tertulis, Senin (29/6).

Menurut Edy, kebijakan ini akan mampu mengurangi tekanan biaya energi yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri keramik. Sebelumnya, biaya energi gas mencapai sekitar 50 persen dari total biaya produksi keramik. Dengan penyesuaian tersebut, rata-rata biaya gas industri keramik diperkirakan turun menjadi sekitar USD 9,5-10 per MMBtu, atau setara 38-40 persen dari total biaya produksi. Penurunan ini dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan operasional dan menekan risiko pengurangan tenaga kerja atau PHK.

Asaki juga berharap pemerintah ke depan dapat meningkatkan kembali porsi alokasi HGBT menjadi sekitar 70-80 persen, seperti yang pernah diterapkan sebelumnya. Menurut Edy, langkah itu diperlukan untuk memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya arus produk impor, terutama dari China dan India.

Selain berpotensi menyelamatkan industri dari ancaman PHK, Asaki menilai kebijakan ini juga akan memberikan efek berganda bagi perekonomian. Dengan membaiknya kepastian pasokan gas dan iklim usaha, industri keramik nasional optimistis dapat melanjutkan rencana ekspansi pada periode 2025-2029. Rencana tersebut mencakup tambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, nilai investasi mencapai Rp 12 triliun, serta potensi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja baru. "Pelaku industri berharap kebijakan energi yang lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional," tambah Edy.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags