Praktisi Media Soroti Dugaan Politisasi di Piala Dunia 2026, Tim Iran Jadi Sorotan

- Senin, 29 Juni 2026 | 20:00 WIB
Praktisi Media Soroti Dugaan Politisasi di Piala Dunia 2026, Tim Iran Jadi Sorotan

Praktisi media massa Benz Jono Hartono menyoroti dugaan politisasi dalam penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026, khususnya terkait perlakuan terhadap tim nasional Iran. Wakil Direktur CAJ PWI Pusat dan Executive Director HIAWATHA Institute itu menilai sepak bola seharusnya menjadi ruang netral yang menjunjung tinggi sportivitas tanpa dipengaruhi kepentingan politik, ideologi, maupun rivalitas antarnegara.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Senin (29/6/2026), Benz mengungkapkan kekhawatiran bahwa penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko berpotensi membawa dampak ketegangan geopolitik ke dalam kompetisi. Hal ini terutama dirasakan oleh negara-negara yang memiliki hubungan diplomatik tidak harmonis dengan Barat, termasuk Iran.

Menurutnya, setiap keputusan kontroversial yang melibatkan tim Iran berpotensi memunculkan persepsi publik mengenai adanya keberpihakan atau intervensi politik. Ia mencontohkan keputusan pembatalan gol melalui teknologi offside semi-otomatis yang terjadi hanya karena posisi tumit pemain Iran melewati garis offside dengan selisih sekitar satu sentimeter.

"Dalam pandangan saya, fakta tersebut menunjukkan adanya sabotase FIFA dan konspirasi pemerintah Amerika Serikat terhadap Iran," ujar Benz dalam pernyataannya.

Meski demikian, klaim tersebut merupakan pendapat narasumber dan belum disertai bukti independen maupun pernyataan resmi dari FIFA atau pihak penyelenggara yang mengonfirmasi adanya unsur sabotase atau intervensi politik.

Benz menegaskan, FIFA memiliki tanggung jawab menjaga integritas kompetisi dengan memastikan seluruh peserta memperoleh perlakuan yang setara tanpa dipengaruhi kondisi geopolitik masing-masing negara. Ia menilai ada tiga prinsip yang harus dijaga agar olahraga internasional tetap memiliki legitimasi: kesetaraan seluruh peserta tanpa memandang posisi politik negaranya, transparansi dalam setiap keputusan pertandingan, serta independensi organisasi olahraga dari kepentingan politik negara mana pun.

"Sepak bola seharusnya menjadi arena persatuan umat manusia, bukan arena untuk memperpanjang permusuhan politik internasional," pungkasnya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags