Sejak 2013, popularitas pendakian gunung di Indonesia melonjak drastis, dipicu film dan media sosial. Namun, antusiasme itu tidak dibarengi kesiapan fisik, mental, dan peralatan. Akibatnya, angka kecelakaan fatal terus meningkat.
Sepanjang 2013–2025, tercatat 248 kematian di 70 gunung di 18 provinsi. Lonjakan tertajam terjadi pada 2023 (37 kematian) akibat letusan Gunung Marapi yang menewaskan 24 orang, dan 2025 (36 kematian) yang didominasi Jawa Barat dan Jawa Tengah wilayah dengan 1,5 juta perjalanan pendakian per tahun.
Jatuh dan Hipotermia Jadi Pembunuh Utama
Dua penyebab utama kematian adalah jatuh (53 kasus) dan hipotermia (44 kasus), yang mencakup hampir 40% total kasus. Keduanya lebih sering dipicu kelalaian manusia daripada faktor alam. Insiden jatuh melonjak signifikan pada 2024–2025, diduga akibat tren pendakian satu hari (hiking) dan dominasi pendaki muda.
Anomali Musiman dan Kerentanan Usia Muda
Hipotermia puncak terjadi pada Agustus (8 kasus) anomali karena bulan itu puncak kemarau. Suhu gunung merosot tajam akibat angin monsun Australia. Lima dari delapan kasus Agustus terjadi di Gunung Bawakaraeng. Sementara itu, insiden jatuh tidak dipengaruhi musim; justru tinggi saat jalur kering karena pendaki lengah atau nekat memotong jalur.
Kelompok usia 17–25 tahun mendominasi korban: 17 insiden jatuh dan 20 hipotermia. Secara keseluruhan, kelompok ini menyumbang 101 kematian (hampir 40% total), termasuk kasus tersesat, degradasi fisik, sambaran petir, dan gas beracun.
Mengapa Usia Muda Paling Rentan?
Faktor psikologis dan sosiologis menjadi penyebab: ego dan minim pengalaman, pencarian identitas yang memicu keputusan impulsif, serta rasa takut ditolak kelompok yang membuat mereka memaksakan diri.
Data ini menjadi alarm bagi dunia pendakian. Edukasi komprehensif, standardisasi keamanan, dan pengetatan registrasi perlu digalakkan, terutama untuk kelompok usia muda. Mendaki gunung bukan ajang pembuktian instan, melainkan kegiatan terukur yang menuntut kesiapan dan hormat pada alam.
Artikel Terkait
Microsleep 3 Detik Saat Kemudi 80 Km/Jam, Mobil Melaju 66 Meter Tanpa Kendali