Mengemudi di jalan yang lurus dan sepi, apalagi setelah menyantap makanan berat, seringkali memicu rasa kantuk yang sulit dilawan. Kondisi ini bukan sekadar rasa lelah biasa, melainkan bisa berujung pada microsleep episode tidur singkat yang kerap terjadi tanpa disadari. Bahayanya, fenomena ini menjadi salah satu penyebab signifikan kecelakaan fatal di jalan raya.
Microsleep bukanlah tidur dalam arti sebenarnya, melainkan periode transisi sesaat sebelum seseorang benar-benar tertidur. Kondisi ini bisa menyerang siapa saja, terutama mereka yang memiliki siklus tidur pendek atau gangguan tidur tertentu. Saat microsleep terjadi, sebagian otak benar-benar beristirahat sementara bagian lainnya masih aktif. Akibatnya, kemampuan otak untuk memproses informasi menjadi tidak optimal. Seorang pengemudi yang mengalami microsleep, misalnya, bisa tidak menyadari bahwa lampu lalu lintas sudah berubah dari merah menjadi hijau.
Jika microsleep terjadi saat bersantai di sofa, risikonya mungkin hanya sekadar tersentak kaget. Namun, situasinya menjadi sangat berbeda ketika seseorang sedang berada di balik kemudi. Data dari organisasi keselamatan jalan raya Amerika Serikat, AAA Foundation, menunjukkan bahwa sekitar 16,5 persen kecelakaan fatal mobil disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk. Kondisi ini secara langsung mengurangi waktu reaksi, kewaspadaan, dan kemampuan mengambil keputusan.
Yang lebih mengkhawatirkan, sebuah penelitian dari Universitas Queensland di Australia menemukan bahwa pengemudi yang mengalami microsleep cenderung enggan menepi untuk beristirahat. Padahal, semakin sering dan semakin lama episode microsleep terjadi, risiko kecelakaan pun meningkat drastis.
Auto2000, dalam rilisnya, memberikan ilustrasi nyata tentang bahaya ini. Jika sebuah mobil melaju dengan kecepatan konstan 80 kilometer per jam, dalam satu detik kendaraan tersebut dapat menempuh jarak 22 meter. Apabila microsleep berlangsung selama tiga detik, mobil sudah melaju sejauh sekitar 66 meter tanpa kendali penuh dari pengemudi. Dalam kondisi seperti itu, risiko terjadinya kecelakaan sangat besar.
Oleh karena itu, para ahli merekomendasikan batas maksimal durasi mengemudi adalah empat jam. Setelah itu, pengemudi sangat disarankan untuk beristirahat. Sejumlah mobil modern kini bahkan telah dilengkapi fitur pengingat yang akan memberi tahu pengemudi untuk beristirahat setelah melewati batas waktu mengemudi yang ditentukan.
Selain beristirahat, ada beberapa cara lain yang bisa dilakukan untuk menghindari microsleep saat berkendara. Pengemudi dianjurkan untuk menepi sejenak dan melakukan power nap, memastikan istirahat yang cukup sebelum perjalanan, mendengarkan musik yang dapat membangkitkan semangat, mengonsumsi kafein seperti kopi, atau mengajak rekan untuk menemani perjalanan dan menjadi sopir pengganti jika diperlukan.
Artikel Terkait
Gempa Kembar Magnitudo 7,2 dan 7,5 Guncang Venezuela, Ratusan Tewas dan Bandara Caracas Ditutup
Norwegia vs Prancis: Duel Sengit Perebutan Puncak Grup I dan Panggung Duel Haaland Kontra Mbappe
PAM Jaya Targetkan Akses Air Bersih di Jakarta Tuntas 2029, Butuh Tambahan 2.000 Km Pipa
Praktisi Kesehatan: Flu Bukan Penyakit Ringan, Masyarakat Diminta Tak Lagi Meremehkan