Permainan Licin di Panggung Elite: Meritokrasi Hanya Ilusi?

- Rabu, 21 Januari 2026 | 17:40 WIB
Permainan Licin di Panggung Elite: Meritokrasi Hanya Ilusi?

Semuanya berjalan mulus. Terlalu mulus, malah. Elit Gerindra bilang, “Sudah mundur 31 Desember.”

Lalu Gubernur BI ikut bersuara, “Saya yang mengajukan dia jadi deputi Gubernur.”

Tinggal DPR yang menyetujuinya dengan cepat. Ketuk palu. Dan jadilah. Seseorang yang baru muncul sekejap, hitungan jari saja, sudah menduduki posisi-posisi penting. Sempurna.

Licin sekali, bukan?

Jadi, ya, terserah kalian sajalah.

Kenyataannya, sistem merit di negeri ini cuma ilusi belaka. Coba lihat: pejabat yang latar belakang pendidikannya tidak nyambung, pengalaman kerjanya tak jelas, bisa dengan mudah mengangkangi jabatan strategis. Sementara untuk posisi receh di paling bawah, tesnya habis-habisan. SKCK wajib, passing grade harus tembus, ditempatkan di ujung dunia. Ironisnya, mereka yang di bawah ini justru paling nurut, bahkan rela membungkuk-bungkuk pada atasan yang jelas-jelas hasil nepotisme.

Dua puluh tahun kita jalan di tempat. Begini-begini saja. Nilai rupiah? Jangan ditanya. Pendapatan per kapita kalah jauh dari negara tetangga, sementara utang melonjak tiga kali lipat. Upah buruh riil stagnan. Dunia pendidikan? Biaya sekolah dan kuliah meroket, tapi ranking kampus-kampus kita malah terjun bebas. Layanan kesehatan pun sama. Berobat mahal, sampai-sampai yang mampu memilih kabur ke Malaysia.

Belum lagi soal lingkungan. Hutan hancur lebur. Polusi udara di mana-mana. Di sini, orang seenaknya menyebar racun, berpesta pora mencemari udara dan sungai-sungai. Seolah tak ada yang peduli.

"Tere Liye

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar