Praktisi Kesehatan: Flu Bukan Penyakit Ringan, Masyarakat Diminta Tak Lagi Meremehkan

- Jumat, 26 Juni 2026 | 20:01 WIB
Praktisi Kesehatan: Flu Bukan Penyakit Ringan, Masyarakat Diminta Tak Lagi Meremehkan

Penyakit influenza atau flu masih kerap dipandang sebelah mata oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Anggapan bahwa flu hanyalah penyakit ringan, bahkan sekadar alasan untuk tidak menghadiri acara, begitu mengakar. Praktisi kesehatan masyarakat, dr. Ngabila Salama, memberikan penjelasan mengenai fenomena ini dan mengingatkan bahwa flu bukanlah penyakit yang bisa dianggap remeh.

Menurut dr. Ngabila, kebiasaan meremehkan flu di Indonesia memiliki latar belakang yang cukup kuat. Letak geografis Indonesia yang berada di wilayah tropis dan tingginya paparan berbagai virus dalam keseharian membuat masyarakat seolah kebal. “Orang Indonesia tuh sebenarnya sudah banyak banget virus kuman yang sudah masuk ke dalam tubuhnya. Jadi kalau saya bilang ya udah jorok bangetlah kayak gitu. Tapi memang dibantu dengan negara yang tropis ya,” ucapnya dalam sebuah wawancara.

Setiap dua hingga tiga bulan sekali, banyak orang Indonesia mengalami batuk, demam, atau tenggorokan tidak nyaman. Akibatnya, flu dianggap sebagai kondisi yang biasa. Padahal, di negara lain, terutama di Eropa, dampak flu bisa sangat serius. “Kalau kita bicara di luar negeri di Eropa itu banyak sekali orang yang meninggal karena Pneumonia akibat virus, virus influenza, Parainfluenza, Rhinoviruses, dan sebagainya,” lanjut dr. Ngabila.

Untuk menekan risiko tersebut, sejumlah negara bahkan mewajibkan vaksinasi flu, khususnya bagi kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, balita, dan lansia. Vaksin flu dianjurkan diberikan setahun sekali. “Vaksin Flu dan Vaksin Tipes ya tentunya. Karena kalau Vaksin Flu itu kan 1 tahun sekali kita berikan untuk usia 6 bulan ke atas. Terutama kelompok rentan, bayi, balita, ibu hamil, lansia, orang dengan komorbit, hipertensi, DM gitu,” jelas dr. Ngabila.

Ia pun mencontohkan pengalaman pribadinya. Selama 3–4 tahun terakhir, ia rutin memberikan vaksin lengkap kepada anak-anaknya sejak usia enam bulan. Hasilnya, anaknya yang dulu sering sakit setiap dua hingga tiga bulan kini hampir tidak pernah sakit. “Minum obat Paracetamol, pereda panas di rumah pun itu sudah enggak pernah terpakai kayak gitu. Karena itu karena vaksin itu usia 6 bulan ke atas,” tuturnya.

Dr. Ngabila mengajak masyarakat untuk lebih terbuka terhadap vaksinasi flu. Ia menekankan bahwa biaya satu kali vaksin setara dengan biaya pengobatan saat sakit. “Jadi, satu vaksin flu itu setara dengan satu porsi stik. Tetapi perbedaannya ini untuk perlindungan 1 tahun dan padahal kalau kita sakit pun ya kita mengeluarkan uang sebesar vaksin full itu lagi setiap sakit,” pungkasnya.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags