Baht Menguat, Ekspor Tertekan: Bank Sentral Thailand Waspadai Badai Ekonomi

- Rabu, 07 Januari 2026 | 16:55 WIB
Baht Menguat, Ekspor Tertekan: Bank Sentral Thailand Waspadai Badai Ekonomi

Bank Sentral Thailand baru-baru ini angkat bicara. Peringatannya jelas: perekonomian negara itu sedang menghadapi sederet tantangan yang tak bisa dianggap enteng. Salah satu yang paling mengkhawatirkan adalah penurunan daya saing yang terus berlanjut.

Semua ini terjadi dalam bayang-bayang dua hal: penguatan nilai tukar baht yang cukup signifikan dan dampak dari kebijakan tarif Amerika Serikat yang terus membebani kinerja ekspor. Menurut sejumlah saksi, tekanan yang dirasakan oleh pelaku usaha, terutama yang berukuran kecil, sudah sangat nyata.

Faktanya, ekonomi terbesar kedua di Asia Tenggara ini memang sedang bergulat. Masalahnya bukan cuma satu atau dua, tapi bertumpuk. Di satu sisi, ada baht yang terus menguat. Di sisi lain, utang rumah tangga yang tinggi masih jadi beban. Belum lagi ketegangan di perbatasan dengan Kamboja yang menambah suasana tidak pasti. Dan di atas segalanya, ada nuansa politik yang makin panas jelang pemilu awal Februari mendatang.

“Tahun ini ada banyak ketidakpastian,” ujar Wakil Gubernur Bank of Thailand (BOT), Piti Disyatat, kepada para wartawan.

Ia mengakui bahwa ruang untuk manuver kebijakan memang terbatas. Namun begitu, ia menegaskan bahwa opsi itu tetap ada di meja, siap digunakan jika situasi benar-benar memaksa.

“Jika kami pikir itu perlu, maka akan digunakan,” tegasnya.

Laporan terbaru bank sentral memberi gambaran yang beragam. Pertumbuhan PDB Thailand di paruh kedua tahun lalu tercatat 1,3 persen secara tahunan. Angka ekspor justru lebih menggembirakan, tumbuh 9,1 persen pada periode yang sama.

Tapi ceritanya berbeda soal inflasi. Tekanan harga masih terlihat sangat lemah. Data dari Kementerian Perdagangan menunjukkan Indeks Harga Konsumen (IHK) utama justru turun 0,28 persen pada Desember, melanjutkan tren penurunan dari bulan sebelumnya. Angka ini jauh melorot dari target bank sentral yang berada di kisaran 1 sampai 3 persen. Inflasi inti memang masih positif, naik 0,59 persen, tapi tetap saja rendah.

Secara keseluruhan sepanjang 2025, IHK utama Thailand malah terkoreksi 0,14 persen. Penurunan harga bahan bakar dan listrik disebut-sebut sebagai penyumbang utama. Pemerintah sendiri memperkirakan inflasi utama akan berada di zona negatif hingga datar di kuartal pertama tahun ini.

Meski datanya seperti itu, bank sentral berusaha tenang. Mereka menilai ekspektasi inflasi jangka menengah masih bisa dikendalikan dalam target. Tapi, kekhawatiran akan deflasi jelas mengintai. Soal ini, pejabat BOT punya penilaian sendiri.

“Saat ini, kami pikir tidak ada risiko deflasi. Kami belum melihatnya, tetapi ini adalah masalah yang harus dipantau,” kata Sakkapop Panyanakul, Direktur Kelompok Kebijakan Moneter BOT.

Perhatian lain tertuju pada baht yang kuat. Bank sentral menyoroti bahwa penguatan mata uang ini memperketat likuiditas, khususnya bagi eksportir kecil dan menengah. Akibatnya, beban mereka untuk mengirim barang ke luar negeri jadi makin berat. Catat saja, sepanjang tahun lalu, baht menguat lebih dari 10 persen terhadap dolar AS.

Di tengah semua tantangan ini, ada secercah harapan. Dalam forum terpisah, Piti Disyatat menyampaikan proyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi diprediksi kembali positif pada kuartal IV-2025. Target pertumbuhan tahunan sebesar 2,2 persen, katanya, masih mungkin untuk dicapai. Tentu saja, dengan catatan dan perjuangan ekstra.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar