Serangan Amerika Serikat ke Venezuela yang berakhir dengan ditangkapnya Presiden Nicolas Maduro oleh pasukan elite AS, ternyata bukan cuma bikin harga minyak dan emas dunia melonjak. Ada efek lain yang lebih dekat dengan kita: tekanan terhadap rupiah. Situasi global yang memanas ini, rupanya, punya konsekuensi langsung buat perekonomian dalam negeri.
Di pasar, reaksinya sudah terlihat. Berdasarkan pantauan Bloomberg, nilai tukar rupiah pada Senin siang (5/1) tercatat melemah 22 poin ke level Rp 16.746 per dolar AS. Pelemahan ini mungkin terlihat kecil, hanya 0,13 persen, tapi trennya patut diwaspadai.
Muhammad Faisal, Direktur Eksekutif CORE, mengonfirmasi hal ini. Menurutnya, dalam beberapa hari terakhir rupiah memang terpantau melemah.
"Ini seiring dengan reaksi arus modal dan naiknya persepsi risiko global. Tekanan semacam ini biasanya berdampak lebih besar pada mata uang kita," jelas Faisal.
Ia menegaskan, peran Bank Indonesia menjadi kunci di tengah gejolak.
"Kalau kondisi begini, peran BI sentral banget untuk stabilisasi. Ini penting buat meredam tekanan eksternal supaya nggak bikin dampak lebih buruk ke ekonomi domestik," ungkapnya saat dihubungi Senin lalu.
Dampaknya bisa merambat ke mana-mana. Faisal mengingatkan, rupiah yang melemah berpotensi menaikkan biaya impor. Sektor riil yang bergantung pada bahan baku atau barang modal dari luar negeri bakal merasakan dampaknya pertama kali. Belum lagi efek di sektor keuangan.
"Itu yang perlu diantisipasi. Pelemahan nilai tukar ini bisa bikin instabilitas. Kalau nggak dijaga, dikhawatirkan memicu herding behavior," tambahnya.
Di sisi lain, pengamat Emas dan Rupiah Ibrahim Assuaibi punya pandangan menarik soal intervensi BI. Ia yakin pelemahan rupiah akibat penguatan dolar akan mendorong bank sentral turun tangan di pasar valas. Namun begitu, menurutnya, hal ini tak serta-merta menguras cadangan devisa kita.
"Kalau menurut saya enggak, sih. Soalnya intervensi BI itu bukan cuma dari BI sendiri. Pemerintah dan emiten swasta juga ikut melakukan intervensi," ujar Ibrahim.
Dengan upaya kolektif itu, ia menilai pelemahan rupiah bakal relatif terbatas. Meski dolar menguat tajam, pergerakannya mungkin cuma sekitar 15 poin.
"Ya artinya benar-benar BI harus melakukan intervensi di pasar domestik maupun internasional," tuturnya.
Sementara itu, lonjakan harga emas global jadi bukti nyata lain dari dampak serangan itu. Ibrahim mencatat, harga emas dunia melonjak tajam (gap up) sekitar USD 92, menyentuh level tertinggi di kisaran USD 4.420 per troy ounce.
Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik di berbagai kawasan mulai dari Amerika Latin, Timur Tengah, sampai Eropa masih jadi pendorong utama kenaikan ini. Termasuk buat harga Logam Mulia di dalam negeri.
Ibrahim bahkan memperkirakan harga emas dunia bisa merangkak naik mendekati USD 5.600 dalam waktu dekat. Kalau itu terjadi, harga emas lokal berpotensi menyentuh Rp 2,61 juta per gram akhir pekan depan.
"Harga minyak naik, emas dunia naik, rupiah melemah. Ini semua indikasi yang sama: ketegangan geopolitik mengerek harga komoditas, dan penguatan dolar akhirnya berdampak ke rupiah," sebut Ibrahim menyimpulkan.
Jadi, satu peristiwa di Venezuela ternyata gelombangnya terasa sampai ke sini. Mulai dari harga emas di toko perhiasan sampai nilai tukar yang mempengaruhi harga barang impor. Semuanya saling terkait.
Artikel Terkait
Analis Proyeksikan IHSG Fluktuatif, Fokus pada Finalisasi Reformasi Integritas Pasar
Harga Minyak Dunia Menguat Didorong Ketegangan AS-Iran dan Aksi Short-Covering
Analis Proyeksi IHSG Uji Resistance Kuat di Level 8.400
Indonesia-AS Sepakati 1.819 Produk Bebas Tarif, Dinamika Berubah Pasca Putusan MA AS