Blunder Protokoler: RTM Malaysia Salah Sebut Prabowo Subianto sebagai Jokowi di KTT ASEAN
Lembaga penyiaran nasional Malaysia, Radio Televisyen Malaysia (RTM), menjadi sorotan setelah melakukan kesalahan fatal dalam meliput Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-47 ASEAN di Kuala Lumpur. Stasiun televisi pemerintah tersebut secara keliru menyebut Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebagai Joko Widodo atau Jokowi.
Pandangan Pakar Hubungan Internasional
Faruq Arjuna Hendroy, Pengamat Hubungan Internasional dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyayangkan insiden blunder protokoler yang dilakukan lembaga penyiaran resmi pemerintah Malaysia ini. Menurutnya, dalam forum diplomasi tinggi seperti KTT ASEAN yang sangat menjunjung protokoler, detail seperti nama kepala negara, bendera, dan nama negara adalah hal krusial yang wajib diperhatikan.
"Sekilas mungkin terlihat sepele, tapi kesalahan seperti ini memengaruhi citra negara tuan rumah dalam menyambut delegasi. Malaysia bisa dianggap abai, ceroboh, atau bahkan tidak menghargai tamu delegasi yang datang," tegas Faruq.
Dampak pada Citra Malaysia di Kancah Internasional
Kesalahan penyebutan nama Presiden Indonesia ini dinilai dapat berdampak negatif pada citra Malaysia sebagai tuan rumah forum internasional. Faruq yang juga Master Candidate of Peace and Conflict Studies The University of Queensland menekankan bahwa kredibilitas sebuah negara dalam menyelenggarakan event bergengsi seperti KTT ASEAN dipertaruhkan.
Sejarah Kesalahan Protokoler Malaysia terhadap Indonesia
Ini bukan pertama kalinya Malaysia melakukan kesalahan protokoler terkait Indonesia. Faruq mengingatkan insiden serupa yang bahkan lebih parah terjadi pada tahun 2017.
"Saat Malaysia menjadi tuan rumah SEA Games 2017, mereka pernah membuat bendera merah putih terbalik sehingga mirip bendera Polandia. Insiden itu memicu reaksi lebih keras, bahkan sampai mengakibatkan Kedutaan Malaysia di Jakarta didemo massa," jelasnya.
Prospek Hubungan Indonesia-Malaysia Pasca Insiden
Meski menimbulkan kekecewaan, Faruq memperkirakan insiden salah sebut nama presiden ini tidak akan memicu ketegangan serius antara Indonesia dan Malaysia. Kedua negara dinilai akan tetap mengedepankan harmonisasi hubungan bilateral dan semangat persatuan ASEAN.
"Hubungan Indonesia dengan Malaysia dan negara-negara ASEAN lainnya relatif harmonis. Ada riak kecil seperti ini, tapi tidak sampai memicu ketegangan yang lebih besar," pungkasnya.
Artikel Terkait
Dudung Bantah Terlibat Susun Pidato Prabowo yang Dikritik Habib Rizieq
Presiden Prabowo Terima Laporan Strategis dari Wakil Ketua DPR Usai Kunjungan ke Rusia dan Prancis
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo