Jakarta - Momen mudik dan Lebaran selalu dinanti. Tapi, di balik sukacita bertemu keluarga, ada juga potensi tekanan yang bisa menguras emosi. Kementerian Kesehatan pun mengingatkan pentingnya menetapkan batasan. Tujuannya jelas: agar kebersamaan itu benar-benar memberi manfaat, bukan malah berujung stres yang mengganggu kesehatan mental.
Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mudik itu lebih dari sekadar perjalanan fisik.
Lalu, bagaimana caranya? Persiapan dimulai sebelum berangkat. Imran menyarankan untuk menata harapan dan menentukan batasan yang realistis. Misalnya, mengatur durasi kunjungan, berani bilang butuh istirahat, atau merencanakan aktivitas bersama yang menyenangkan. Hal-hal sederhana ini bisa membuat reuni jadi lebih bermakna.
Di sisi lain, perjalanan panjang dengan kemacetan memang sering jadi ujian kesabaran. Rencana yang fleksibel bisa mengurangi tekanan saat terjadi keterlambatan. Ketika kecemasan mulai muncul, coba lakukan teknik pernapasan singkat atau latihan grounding untuk menenangkan diri sejenak.
Perhatian khusus juga perlu diberikan pada anak-anak.
Memberi anak pilihan kecil misalnya kapan mereka boleh memakai tablet bisa membuat mereka merasa dihargai, tanpa orang tua kehilangan kendali.
Harus diakui, mudik selalu membawa campuran perasaan. Ada rindu yang hangat, harapan akan kebersamaan, tapi sekaligus kecemasan soal dinamika keluarga yang mungkin menegangkan. Begitu tiba di kampung halaman, reuni yang dinanti bisa saja membuka luka lama atau memunculkan tekanan karena ekspektasi keluarga yang terlampau tinggi.
Artikel Terkait
Menteri Parekraf Apresiasi Banten Creative Fest, Soroti Anggaran Rp10 Triliun untuk Ekraf
Polisi Ungkap Foto Pelaku Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS dari CCTV, Tegaskan Bukan Buatan AI
Polisi Depok Amankan 13 Pelaku dan 4.066 Butir Tramadol dalam Operasi Maret 2026
Elnusa Petrofin Kerahkan 1.885 Mobil Tangki Dukung Distribusi BBM Saat Mudik