Kemenkes Ingatkan Pentingnya Atur Batasan untuk Jaga Kesehatan Mental Saat Mudik

- Rabu, 18 Maret 2026 | 12:45 WIB
Kemenkes Ingatkan Pentingnya Atur Batasan untuk Jaga Kesehatan Mental Saat Mudik

Jakarta - Momen mudik dan Lebaran selalu dinanti. Tapi, di balik sukacita bertemu keluarga, ada juga potensi tekanan yang bisa menguras emosi. Kementerian Kesehatan pun mengingatkan pentingnya menetapkan batasan. Tujuannya jelas: agar kebersamaan itu benar-benar memberi manfaat, bukan malah berujung stres yang mengganggu kesehatan mental.

Menurut Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, mudik itu lebih dari sekadar perjalanan fisik.

"Ini adalah transisi sosial dan emosional yang intens. Pengalaman yang kaya secara budaya ini dampaknya besar pada kesehatan jiwa. Idealnya, mudik harus memperkaya, bukan menguras," ujarnya di Jakarta, Rabu.

Lalu, bagaimana caranya? Persiapan dimulai sebelum berangkat. Imran menyarankan untuk menata harapan dan menentukan batasan yang realistis. Misalnya, mengatur durasi kunjungan, berani bilang butuh istirahat, atau merencanakan aktivitas bersama yang menyenangkan. Hal-hal sederhana ini bisa membuat reuni jadi lebih bermakna.

Di sisi lain, perjalanan panjang dengan kemacetan memang sering jadi ujian kesabaran. Rencana yang fleksibel bisa mengurangi tekanan saat terjadi keterlambatan. Ketika kecemasan mulai muncul, coba lakukan teknik pernapasan singkat atau latihan grounding untuk menenangkan diri sejenak.

Perhatian khusus juga perlu diberikan pada anak-anak.

"Tetapkan aturan penggunaan gadget sebelum berangkat," kata Imran. "Siapkan aktivitas offline dan unduh konten edukatif. Suasana jadi lebih tenang, interaksi keluarga pun lebih berkualitas."

Memberi anak pilihan kecil misalnya kapan mereka boleh memakai tablet bisa membuat mereka merasa dihargai, tanpa orang tua kehilangan kendali.

Harus diakui, mudik selalu membawa campuran perasaan. Ada rindu yang hangat, harapan akan kebersamaan, tapi sekaligus kecemasan soal dinamika keluarga yang mungkin menegangkan. Begitu tiba di kampung halaman, reuni yang dinanti bisa saja membuka luka lama atau memunculkan tekanan karena ekspektasi keluarga yang terlampau tinggi.

Namun begitu, situasi ini bukan tidak bisa dikelola. Komunikasi yang jujur dan hangat, disampaikan dengan bahasa tegas tapi penuh empati, justru bisa mengubah tekanan jadi peluang untuk mempererat hubungan.

Setelah kunjungan usai, jangan lupa luangkan waktu untuk memulihkan diri. Tidur yang cukup, jalan santai, atau sekadar ngobrol singkat dengan teman bisa membantu menata ulang emosi yang mungkin sempat berantakan.

Di balik segala tantangannya, mudik sejatinya menyimpan banyak manfaat nyata bagi kesehatan jiwa. Berkumpul dengan keluarga dan sahabat karib memberikan dukungan sosial yang mendalam. Pelukan, tawa bersama, percakapan hangat semua itu terbukti bisa menurunkan tingkat stres dan meningkatkan suasana hati.

Perubahan suasana dan jeda dari rutinitas kerja juga memberi ruang untuk istirahat mental. Tidur lebih nyenyak, makan bersama, atau aktivitas sederhana seperti berjalan di kampung halaman bisa memperbaiki ritme hidup dan mengurangi ketegangan.

Tak kalah penting, mudik memperkuat ikatan antar-generasi. Interaksi dengan orang tua, kakek-nenek, dan kerabat membuka peluang berbagi cerita dan nilai-nilai hidup. Ritual bersama, seperti saling memaafkan atau memasak hidangan khas, menumbuhkan rasa keterhubungan dan ketahanan emosional.

Bahkan momen paling sederhana, seperti tertawa lepas di meja makan atau bernostalgia, bisa memberi energi baru dan memperkuat mood.

"Dengan persiapan yang praktis, komunikasi jelas, dan strategi sederhana untuk mengelola emosi, tradisi pulang kampung ini bisa menjadi momen yang memperkuat ikatan," pungkas Imran. "Ia bisa menyegarkan jiwa, tanpa harus mengorbankan kesehatan mental kita."

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler