Jumlah lansia di Indonesia terus bertambah. Fakta ini tak bisa dipungkiri lagi. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Ketenagakerjaan kini mendorong perusahaan-perusahaan, atau yang sering disebut Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), untuk membuka lebih banyak peluang kerja bagi kelompok usia lanjut. Ajakan kolaborasi ini bukan tanpa alasan, melainkan respons atas perubahan demografi yang sedang terjadi.
Angka dari Badan Pusat Statistik (BPS) cukup jelas menggambarkan trennya. Diprediksi pada 2025 nanti, proporsi penduduk lansia bakal menyentuh 11,93 persen dari total populasi. Angka harapan hidup yang kian membaik turut mendorong kondisi ini. Artinya, kita sedang bergerak menuju era masyarakat menua.
Estiarty Haryani, yang menjabat Plt Dirjen Binapenta dan PKK, mengakui realitas tersebut. Menurutnya, situasi ini menuntut kebijakan ketenagakerjaan yang lebih inklusif. Tujuannya jelas: agar potensi besar dari tenaga kerja lansia tidak sia-sia.
"Namun di sisi lain, tingkat partisipasi angkatan kerja lansia masih terbatas dibandingkan kelompok usia produktif lainnya," ujar Esti.
Ia melanjutkan, "Hal ini menunjukkan masih adanya potensi besar yang belum dimanfaatkan secara optimal dan perlu menjadi perhatian bersama."
Pernyataan itu disampaikannya melalui keterangan resmi pada Kamis, 16 April 2026.
Esti menegaskan, membangun ekosistem yang ramah lansia bukan pekerjaan mudah. Butuh kerja sama dari banyak pihak. Pemerintah tentu tak bisa jalan sendiri. Peran dunia usaha, akademisi, komunitas, hingga media sangat dibutuhkan untuk mewujudkannya.
“Kolaborasi menjadi kunci agar kebijakan yang disusun tidak hanya implementatif, tetapi juga memberikan dampak nyata di lapangan,” tegasnya.
Sebagai langkah konkret, Kemnaker sendiri sedang mempersiapkan sebuah peraturan menteri. Aturan yang sedang disusun itu adalah Permenaker tentang Penempatan dan Pemberdayaan Tenaga Kerja Khusus, yang juga akan mengakomodir kepentingan pekerja lanjut usia.
Regulasi ini diharapkan bisa jadi pondasi yang kuat ke depannya. “Instrumen penting untuk memperluas akses, memperkuat perlindungan, serta memastikan kesempatan kerja yang layak bagi tenaga kerja lansia di Indonesia,” harap Esti.
Pada akhirnya, semua kembali pada kesadaran bersama. Memanfaatkan pengalaman dan keahlian para lansia bukan sekadar isu sosial, tapi juga peluang strategis bagi dunia industri.
Artikel Terkait
AS Siap Naikkan Tarif Impor untuk Indonesia dan Asia Awal Juli
MTI Dorong Transformasi Angkutan Umum sebagai Solusi Krisis Energi
Australia Minat Impor Pupuk Urea dari Indonesia, Pemerintah Utamakan Kebutuhan Petani Lokal
BMKG Bantah Isu Kemarau 2026 sebagai yang Terparah dalam 30 Tahun