WASHINGTON Langkah tegas diambil Amerika Serikat di perairan yang paling sibuk di dunia. Lebih dari lima belas kapal perang dikerahkan untuk memblokade Selat Hormuz. Pengumuman resmi datang langsung dari Presiden Donald Trump pada Senin (13/6/2026). Intinya jelas: mulai sekarang, kapal-kapal yang hendak masuk atau keluar melalui jalur strategis itu akan dicegat.
Bahkan, kebijakan ini berlaku tanpa pandang bulu. Kapal-kapal yang sudah membayar "uang tol" kepada Iran pun tak akan dilewaskan. Ini jelas sebuah eskalasi yang berani.
Lalu, di mana posisi pasukan? Menurut seorang pejabat senior AS, Laksamana Madya Kevin Donegan, armada AS kemungkinan besar akan berjaga di luar selat. Tujuannya untuk meminimalisir ancaman langsung dari Iran.
"Kami akan beroperasi dengan hati-hati, menjaga jarak yang aman namun tetap efektif," ujar Donegan kepada The Wall Street Journal.
Semua ini berawal dari kegagalan perundingan. Pembicaraan damai AS-Iran di Islamabad, Pakistan, akhir pekan lalu, berakhir tanpa titik terang. JD Vance, Wakil Presiden AS yang memimpin delegasi, mengaku kedua negara gagal menemukan kesepakatan, terutama soal isu nuklir yang selalu jadi ganjalan.
AS bersikukuh menolak program pengayaan uranium Tehran, yang dicurigai bakal dialihkan untuk senjata. Iran, di sisi lain, membantah keras tuduhan itu. Mereka menyatakan program nuklirnya murni untuk kepentingan sipil, seperti pembangkit listrik.
Karena jalan diplomasi mentok, Komando Pusat AS (Centcom) pun menjalankan perintah Trump. Blokade pun dimulai. Armada yang dikerahkan tidak main-main: satu kapal induk, sejumlah kapal perusak (destroyer), satu kapal serbu amfibi, ditambah kapal-kapal pendukung lainnya.
Kekuatan mereka cukup lengkap. Beberapa kapal bisa mengangkut helikopter untuk operasi pendaratan mendadak. Ada juga yang bertugas mengarahkan kapal dagang ke area tertentu jika diperlukan. Situasinya tegang, dan dunia kini menunggu reaksi Iran berikutnya.
Artikel Terkait
KPK Sita Barang Elektronik Tersangka Korupsi Bea Cukai, Tersangka Laporkan Juru Bicara
Pemerintah Wajibkan Pelibatan Masyarakat dalam Perdagangan Karbon Sektor Kehutanan
KKP Segel Pulau Umang di Banten dan Cottage di Maratua Usai Temukan Pelanggaran Izin
Menteri Haji Tegaskan Keamanan Jamaah Jadi Prioritas Utama di Tengah Situasi Timur Tengah