Semua perkembangan militer ini terjadi dalam atmosfer ketegangan yang kian mengental di Semenanjung Korea. Hubungan kedua negara bisa dibilang beku sejak 2019, setelah perundingan nuklir antara Pyongyang dan Washington gagal total.
Pernyataan keras datang dari Wakil Menteri Luar Negeri Pertama Korea Utara, Jang Kum-chol. Pada Selasa (7/4/2026), ia secara terang-terangan menyebut Korea Selatan sebagai "negara musuh yang paling bermusuhan".
Sentimen itu makin diperkeruh dengan insiden pesawat tak berawak awal pekan ini. Seoul sampai mesti meminta maaf ke Pyongyang, sambil bersikeras bahwa peluncuran drone itu murni inisiatif swasta, bukan perintah resmi. Tiga orang, termasuk seorang pegawai Badan Intelijen Nasional, kini berhadapan dengan dakwaan hukum terkait kasus tersebut.
Di tengah situasi ini, Kim Jong-un punya pandangan sendiri. Bulan lalu, pemimpin Korea Utara itu menegaskan bahwa arsenal nuklir yang mampu mengancam AS adalah satu-satunya cara untuk membendung apa yang dia sebut "terorisme dan agresi" Amerika. Ia berkeras Pyongyang tak akan melepas senjata nuklirnya, dan siap menantang siapa pun yang berusaha mengubah status quo itu.
Jadi, serangkaian uji coba ini bukan cuma soal teknologi. Ini adalah pesan, dikirim dengan keras dan jelas, di tengah kebuntuan diplomasi yang sudah berlangsung bertahun-tahun.
Artikel Terkait
Iran Ancam Tutup Selat Bab al-Mandeb Balas Blokade AS di Hormuz
KPK Tuntut Dua Eks Dirut Pertamina Kasus Korupsi LNG Senilai Rp1,7 Triliun
Persib Bandung Raih Kemenangan Dramatis dengan 10 Pemain Atas Bali United
Pemerintah Targetkan TKDN Kendaraan Listrik Minimal 60% Mulai 2027