Pemerintah lagi-lagi menyoroti potensi besar transaksi pakai mata uang lokal. Ini bukan wacana baru, tapi momentumnya kini makin kuat, apalagi melihat mayoritas mitra dagang kita bukan negara ber mata uang dolar. Kalau dioptimalkan, skema ini bisa bawa nilai tambah signifikan buat perdagangan internasional Indonesia.
Di sisi lain, angka-angka yang dirilis teranyar memang cukup menggembirakan. Ferry Irawan, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kemenko Perekonomian, mencatat adanya peningkatan yang konsisten. Pada Januari hingga Februari 2026 saja, nilai transaksi local currency transaction (LCT) sudah menyentuh angka sekitar USD8,45 miliar. Bandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, yang hanya USD3,21 miliar. Lonjakannya terlihat jelas.
“Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia telah bersama-sama memajukan kerangka LCT untuk mendiversifikasi pembayaran bilateral, meningkatkan efisiensi pasar, memperdalam pasar keuangan, dan pada akhirnya mengurangi volatilitas nilai tukar sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi,”
ujar Ferry dalam keterangan resmi akhir pekan lalu.
Peran BUMN dalam skema ini juga patut dicermati. Kontribusinya saat ini berkisar antara 10 sampai 19 persen dari total transaksi LCT. Angka itu punya dua sisi: di satu sisi menunjukkan pemanfaatan yang mulai tumbuh, tapi di sisi lain, masih menyisakan ruang pengembangan yang sangat luas ke depannya. Artinya, masih banyak yang bisa digarap.
Menurut Ferry, perkembangan kerangka LCT sejak pertama kali diluncurkan terbilang pesat. Implementasinya sudah merambah ke berbagai sektor kunci. Mulai dari manufaktur, ketenagalistrikan, gas, transportasi, hingga perdagangan dan jasa. Perkembangan ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan bukti bahwa LCT berfungsi sebagai instrumen riil. Fungsinya ganda: memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menopang aktivitas di sektor riil.
Hingga tahun 2025, kerja sama LCT sudah terjalin dengan enam negara mitra utama. Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab masuk dalam daftarnya. Pengaturan bilateral yang terus diperkuat ini jelas sebuah kemajuan. Ini sinyal bagus untuk integrasi keuangan regional yang lebih dalam dan mendorong penggunaan mata uang lokal secara lebih masif di masa datang.
Artikel Terkait
Beban Subsidi Energi Tembus Rp313 Triliun, Pemerintah Dorong Konversi ke Gas Bumi
KBRI Roma Bagikan Bingkisan Daging Kurban Perdana ke 170 Jamaah Iduladha
Konversi LPG ke CNG Berpotensi Hemat Devisa Hingga USD6 Miliar, Namun Infrastruktur dan Biaya Jadi Tantangan
Sapi Limosin 1,2 Ton Bantuan Presiden untuk Iduladha di Karawang Sempat Stres Nyaris Serang Petugas