Iran punya ancaman baru. Mereka menyatakan siap menutup Selat Bab al-Mandeb di Laut Merah, sebagai balasan jika Amerika Serikat benar-benar memblokade kapal-kapal mereka di Selat Hormuz. Ancaman ini muncul langsung dari siaran televisi pemerintah Iran, Press TV.
"Kalau Trump berani bertindak di Selat Hormuz, dia juga akan kehilangan Selat Bab al-Mandeb," begitu bunyi pernyataan yang mereka sampaikan, mengutip pernyataan stasiun televisi tersebut.
Semua ini berawal dari pernyataan Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu. Dia mengatakan angkatan lautnya akan menghalangi semua kapal yang coba masuk atau keluar dari Selat Hormuz. Esok harinya, Senin, militer AS mengonfirmasi blokade itu akan segera dimulai. Namun, ada sedikit perbedaan penekanan. Militer menyatakan blokade hanya untuk kapal yang menuju atau dari pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman. Kapal yang melintas ke pelabuhan negara lain tidak akan diganggu.
Nah, ancaman penutupan Selat Bab al-Mandeb bukan main-main. Menurut Ali Akbar Velayati, Penasihat Senior Pemimpin Tertinggi Iran, kawasan itu sekarang dipandang setara dengan Hormuz oleh Front Perlawanan.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Velayati menegaskan, "Jika Gedung Putih berani mengulangi kesalahan bodohnya, mereka akan segera menyadari bahwa aliran energi dan perdagangan global dapat terguncang hanya dengan satu gerakan."
Memang, letaknya yang strategis membentang antara Yaman dan Djibouti menjadikan selat ini sangat vital. Sekitar 12 persen minyak dunia melewati jalur sempit ini. Ia adalah pintu gerbang perdagangan antara Asia dan Eropa. Jadi, gangguan di sini dampaknya akan langsung terasa global, terutama di pasar energi yang sudah rentan.
Ini bukan pertama kalinya kawasan itu memanas. Tahun lalu, kelompok Houthi dari Yaman yang punya hubungan dekat dengan Teheran sudah mulai menyerang kapal di Laut Merah. Aksi mereka disebut sebagai respons atas perang di Gaza. Dan posisi mereka semakin jelas ketika secara resmi bergabung dengan perang Iran melawan AS dan Israel akhir Maret lalu, dengan meluncurkan rudal ke Israel selatan.
Jadi, ancaman Iran ini bukan sekadar gertakan. Mereka punya sekutu di lapangan dan menguasai titik-titik choke point yang bisa mengacaukan ekonomi dunia. Situasinya makin runyam, dan dunia hanya bisa menunggu langkah AS berikutnya.
Artikel Terkait
Arus Peti Kemas Pelindo Tembus 6,42 Juta TEUs hingga April 2026, Didorong Ekspor-Impor
Investasi Batu Bara Global Tembus Rekor Rp3.200 Triliun di Tengah Lonjakan Energi Terbarukan
Ekspor Minyak Mentah AS Tembus Rekor Tertinggi di Tengah Gangguan Pasokan Timur Tengah
Siti Annisafa Oceania Raih Wisudawan Terbaik UPI Berkat Konsistensi Belajar 10 Menit Sehari