Tapi jangan khawatir, memasuki Maret, semangat jalan-jalan tampaknya kembali menggelora. Momentum libur panjang Nyepi dan Lebaran di akhir Maret 2026 menjadi pendorong utama. Kementerian Perhubungan mencatat, pergerakan menuju 10 Destinasi Prioritas dan 3 Destinasi Regeneratif melonjak 18,80 persen, mencapai 12,77 juta perjalanan.
Menteri Widiyanti menilai momen libur nasional seperti ini punya peran krusial. Selain mendongkrak aktivitas pariwisata, ia juga memberikan dampak ekonomi yang nyata, terutama bagi pelaku usaha dan UMKM di daerah-daerah tujuan wisata.
Di sisi lain, ada tren menarik yang patut dicermati. Ternyata, minat warga Indonesia untuk berlibur ke luar negeri justru menurun. Pada Februari 2026, jumlah perjalanan ke luar negeri tercatat 701.070, turun 7,64 persen. Akumulasi dua bulan pertamanya juga turun 2,38 persen menjadi 1,71 juta perjalanan.
Data ini menghasilkan kabar baik: neraca kunjungan kita surplus. Jumlah wisatawan asing yang masuk masih lebih tinggi daripada warga yang keluar. Pada Februari saja surplusnya 0,46 juta, dan secara kumulatif Januari-Februari mencapai 0,64 juta. Kondisi ini tentu mendukung perolehan devisa bersih dari sektor pariwisata.
Menutup pembahasan, Menteri Widiyanti menyampaikan optimisme. “Kami optimistis dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat, pariwisata Indonesia akan terus tumbuh dan memberikan kontribusi yang semakin besar bagi perekonomian nasional serta kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegas Jaga Rasio Utang di 40% Meski Aturan Izinkan 60%
Kemenhaj Godok Wacana War Ticket untuk Hapus Antrean Panjang Haji
Presiden Prabowo Lantik Andi Rahadian Jadi Dubes RI untuk Oman dan Yaman
Citigroup Perkuat Tim IT Internal dan AI untuk Kurangi Ketergantungan pada Kontraktor