JAKARTA – Selama ini kita mengenal tempe sebagai lauk sehari-hari yang murah meriah. Tapi siapa sangka, makanan fermentasi berbahan kedelai ini kini naik kelas. Perhatian dunia terhadapnya kian besar, menempatkannya dalam jajaran pangan super atau superfood. Pemicunya? Riset dan inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berhasil mengolah proses fermentasi tempe untuk mendongkrak nilai gizinya.
Kunci utamanya ada di fermentasi. Menurut BRIN, proses inilah yang menentukan kualitas akhir tempe. Nah, dengan teknik fermentasi yang lebih terkontrol dan inovatif, kandungan senyawa bioaktif di dalam tempe bisa melonjak signifikan. Alhasil, manfaat kesehatannya pun jadi jauh lebih optimal.
“Salah satu fokus kami adalah mengubah isoflavon kedelai dari bentuk glikosida menjadi aglikon,” jelas peneliti BRIN.
Senyawa aglikon, seperti genistein dan daidzein, punya aktivitas biologis yang lebih tinggi. Tubuh juga lebih mudah menyerapnya. Dengan peningkatan senyawa ini, tempe bukan cuma sekadar sumber protein nabati biasa. Ia berpotensi jadi penjaga kesehatan tubuh yang sangat tangguh.
Inovasi semacam ini diharapkan bisa memperkuat ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, nilai tambah pangan lokal pun ikut terdongkrak. Padahal, di balik harganya yang bersahabat dan mudah ditemukan di pasar, tempe menyimpan segudang manfaat yang kerap luput dari perhatian.
Mengutip laman Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, rutin mengonsumsi tempe bisa memberi banyak keuntungan. Sistem imun tubuh bisa meningkat, berkat duet probiotik dan antioksidan isoflavon. Untuk tulang, tempe juga punya peran. Kandungan kalsium dan vitamin K-nya cukup untuk membantu mencegah osteoporosis.
Masalah pencernaan seperti diare? Kandungan antibakteri alaminya bisa mengatasinya. Sementara sifat antioksidan dan antiinflamasinya bekerja menjaga kesehatan jantung. Bahkan, tempe dikenal bisa menurunkan kolesterol, yang artinya ikut mencegah penyakit jantung koroner.
Serat pangannya menjaga kesehatan usus dan menekan risiko kanker usus. Isoflavonnya sendiri berperan dalam pencegahan kanker. Jangan lupa, ada zat besi, protein, vitamin B12, dan asam folat yang membantu mencegah anemia. Bagi yang khawatir dengan gula darah, tempe bisa membantu menjaga kadarnya tetap stabil, mengurangi risiko diabetes.
Yang menarik, tempe juga dikaitkan dengan pencegahan asma. Serat pangan dan asam lemak tidak jenuh esensial di dalamnya mampu meredakan peradangan di saluran pernapasan dan memperkuat imun paru-paru.
Dengan sederet manfaat luar biasa itu, wajar jika tempe tak lagi dipandang sebagai makanan tradisional biasa. Ia adalah aset pangan sehat Indonesia yang siap go global.
Artikel Terkait
Universitas Oxford Kembangkan Vaksin Khusus untuk Lawan Varian Langka Ebola yang Mewabah di Kongo
Menkes: Protein Daging Kurban Setara dengan Whey Protein, Baik untuk Pembentukan Otot
Istri Komika Ardit Erwandha Alami Keguguran pada Kandungan Kedua
Java Jazz 2026 Hadirkan Daniel Caesar hingga Slank, Bertransformasi Jadi Panggung Lintas Genre untuk Gen Z