JAKARTA – Selama ini kita mengenal tempe sebagai lauk sehari-hari yang murah meriah. Tapi siapa sangka, makanan fermentasi berbahan kedelai ini kini naik kelas. Perhatian dunia terhadapnya kian besar, menempatkannya dalam jajaran pangan super atau superfood. Pemicunya? Riset dan inovasi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berhasil mengolah proses fermentasi tempe untuk mendongkrak nilai gizinya.
Kunci utamanya ada di fermentasi. Menurut BRIN, proses inilah yang menentukan kualitas akhir tempe. Nah, dengan teknik fermentasi yang lebih terkontrol dan inovatif, kandungan senyawa bioaktif di dalam tempe bisa melonjak signifikan. Alhasil, manfaat kesehatannya pun jadi jauh lebih optimal.
“Salah satu fokus kami adalah mengubah isoflavon kedelai dari bentuk glikosida menjadi aglikon,” jelas peneliti BRIN.
Senyawa aglikon, seperti genistein dan daidzein, punya aktivitas biologis yang lebih tinggi. Tubuh juga lebih mudah menyerapnya. Dengan peningkatan senyawa ini, tempe bukan cuma sekadar sumber protein nabati biasa. Ia berpotensi jadi penjaga kesehatan tubuh yang sangat tangguh.
Inovasi semacam ini diharapkan bisa memperkuat ketahanan pangan nasional. Di sisi lain, nilai tambah pangan lokal pun ikut terdongkrak. Padahal, di balik harganya yang bersahabat dan mudah ditemukan di pasar, tempe menyimpan segudang manfaat yang kerap luput dari perhatian.
Artikel Terkait
Dr. Boyke Ingatkan Penurunan Testosteron dan Pentingnya Pola Hidup Sejak Usia 25
Intermittent Fasting untuk Penderita GERD: Bisa Bermanfaat dengan Syarat
Insanul Fahmi Selesaikan Pemeriksaan Polda Metro Jaya, Jawab 30 Pertanyaan
Aktor Game of Thrones Michael Patrick Meninggal Dunia Akibat Penyakit Neuron Motorik