Banjir yang datang tiba-tiba, musim kemarau yang berkepanjangan, cuaca yang semakin sulit ditebak semua itu bukan lagi sekadar ramalan. Itu adalah kenyataan yang kita hadapi sekarang. Perubahan iklim sudah di sini, dan respons kita harus lebih dari sekadar tanggap darurat. Butuh langkah yang tepat sasaran.
Di tengah situasi ini, membangun ketahanan berbasis ilmu pengetahuan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Tanpa fondasi sains yang kuat, upaya pembangunan justru bisa memperparah kerusakan lingkungan yang ada.
Merespon hal itu, Pusat Studi Perubahan Iklim Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Direktorat Mobilisasi Sumber Daya Pengendalian Perubahan Iklim, Kementerian Lingkungan Hidup memutuskan untuk bergandengan tangan. Kolaborasi ini bertujuan menciptakan aksi nyata yang terukur dan bisa diterapkan langsung di tingkat lokal.
Kerja sama itu resmi dimulai Kamis sore lalu, tepatnya 9 April 2026. Di Lounge Lantai 8 Kampus Unhas Tamalanrea, Makassar, kedua pihak menandatangani perjanjian sekitar pukul lima sore waktu setempat. Intinya, mereka ingin menyatukan keahlian akademis dengan kebutuhan riil di lapangan, terutama untuk menjawab tantangan iklim yang makin rumit.
Rijal M Idrus, Ketua Pusat Studi Perubahan Iklim Unhas, membeberkan salah satu fokus utama mereka: edukasi.
"Kami ingin penguatan edukasi perubahan iklim yang benar-benar berdasar pada bukti ilmiah, tapi bisa dijangkau masyarakat luas," ujarnya.
Harapannya, edukasi ini tak cuma menambah wawasan, tapi juga mengubah perilaku sehari-hari yang berdampak pada lingkungan. Mereka juga akan gencar melakukan program peningkatan kapasitas untuk berbagai pemangku kepentingan di daerah, lewat pelatihan dan pendampingan.
Menariknya, mahasiswa akan dilibatkan sebagai ujung tombak.
"Kami akan integrasikan program ini ke dalam KKN Tematik. Mahasiswa bisa jadi agen perubahan yang membawa solusi ilmiah langsung ke tengah masyarakat," jelas Rijal lagi.
Artikel Terkait
PSIM Yogyakarta Ditaklukan PSM Makassar 2-1 Lewat Gol Dramatis Injury Time
Tripolar Golkar, Nasdem, dan Gerindra Kuasai Peta Politik Sulawesi Selatan
Prabowo Saksikan Penyerahan Rp11,4 Triliun dan Reklamasi Lahan ke Negara
Amnesty International: Serangan Air Keras ke Aktivis KontraS Berpola dan Terencana