Di Istana Kepresidenan Jakarta, suasana pagi ini cukup padat. Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat kerja yang dihadiri oleh seluruh jajaran Kabinet Merah Putih, para pejabat tinggi kementerian, dan direktur utama BUMN. Agenda utamanya jelas: mengevaluasi kinerja dan mengonsolidasikan langkah pemerintah di tengah dinamika ekonomi global yang tak menentu.
Secara umum, kondisi ekonomi kita masih tergolong baik. Itulah poin utama yang disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto usai rapat. Angkanya cukup meyakinkan: pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal IV-2025 tercatat 5,39 persen. Posisi ini menempatkan kita di peringkat kedua tertinggi di antara negara G20, cuma kalah dari India yang tumbuh 7,4 persen.
“Kami sampaikan ke Bapak Presiden, konsumsi domestik kita kuat. Ini jadi penopang utama, kontribusinya mencapai 54 persen dari PDB,” ujar Airlangga dalam jumpa pers, Rabu (8/4/2026).
Ia juga menyinggung ketahanan pangan. Produksi beras tahun 2025 mencapai 34,7 juta ton, sementara stok di Bulog per awal April 2026 masih aman di angka 4,6 juta ton.
Namun begitu, bukan berarti tidak ada tantangan. Airlangga menyoroti gejolak harga komoditas global, terutama minyak mentah, yang masih terpengaruh ketegangan geopolitik Timur Tengah. Ada sedikit peluang napas, katanya, karena Amerika Serikat menunda serangan. Akibatnya, harga minyak sempat melandai.
“Harga crude oil WTI turun ke 96,7 dolar AS per barel, sementara Brent crude ada di level 95,23 dolar,” jelasnya.
Dari sisi anggaran, kabar baik datang dari APBN. Hingga akhir kuartal pertama 2026, penerimaan pajak melonjak 14,3 persen menjadi Rp462,7 triliun. Sektor manufaktur juga masih bergerak di zona ekspansif, dengan PMI di Maret 2026 menyentuh 50,1.
Untuk menjaga momentum, pemerintah punya sejumlah strategi. Salah satunya adalah program biodiesel B50 yang rencananya mulai berlaku 1 Juli 2026 mendatang.
“Kita sudah sepakati B50 per 1 Juli. Program ini bisa menghemat anggaran hingga Rp48 triliun,” tegas Airlangga.
Artikel Terkait
Donnarumma Bantah Isu Minta Bonus, Ungkap Luka Terbesar Setelah Italia Gagal ke Piala Dunia
Pertamina Siapkan Strategi Lima Pilar Hadapi Gejolak Energi Global 2026
Bank Dunia Soroti Ketahanan Ekonomi Indonesia di Tengah Gejolak Global
Ginandjar Kartasasmita: Kunci Pulihkan Rupiah Bukan Cetak Uang, Tapi Kepercayaan